Angkatan Udara Korea Selatan (AU Korsel) meminta maaf atas tabrakan dua jet tempur F-15K yang terjadi saat latihan formasi di dekat Daegu pada Desember 2021. Investigasi terbaru mengungkap, kecelakaan itu dipicu manuver tanpa izin yang dilakukan untuk mengambil foto dan video selama penerbangan.
Permintaan maaf tersebut disampaikan setelah Dewan Audit dan Inspeksi Korea Selatan merilis hasil pemeriksaan atas insiden itu. Dalam konferensi pers, juru bicara AU Korsel menyatakan penyesalan atas dampak yang ditimbulkan kepada publik.
“Kami dengan tulus meminta maaf kepada publik atas kekhawatiran yang disebabkan oleh kecelakaan yang terjadi pada tahun 2021,” ujarnya, seperti dikutip dari The Guardian, Sabtu (3/10/2026).
Manuver untuk mengambil gambar
Berdasarkan laporan Dewan Audit dan Inspeksi, salah satu pilot pendamping berusaha mengabadikan penerbangan terakhirnya bersama unit tersebut. Untuk memperoleh sudut gambar yang dianggap lebih baik, ia melakukan manuver tajam dengan menanjakkan dan memiringkan pesawat tanpa izin.
Pada waktu yang sama, pilot lain yang berada di pesawat utama juga merekam video selama penerbangan. Aktivitas pengambilan gambar itu membuat jarak kedua jet semakin dekat dalam formasi.
Kedua awak kemudian sempat berupaya menghindari tabrakan. Namun, manuver tersebut tidak berhasil sepenuhnya. Bagian ekor pesawat pendamping tetap menghantam sayap jet utama dan mengakibatkan kerusakan signifikan pada kedua pesawat.
Insiden tersebut tidak menimbulkan korban luka. Meski demikian, total kerugian material diperkirakan mencapai sekitar 600.000 dolar AS atau setara Rp10,7 miliar.
Tanggung jawab pilot dan pengawasan
Dewan audit menyimpulkan pilot pesawat pendamping sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas kecelakaan itu. Namun, laporan tersebut juga menyoroti lemahnya pengawasan internal AU Korsel terhadap aktivitas pengambilan gambar selama penerbangan pada saat kejadian.
Temuan itu menunjukkan bahwa persoalan tidak hanya berkaitan dengan keputusan pilot untuk melakukan manuver tanpa izin, tetapi juga dengan pengawasan terhadap perilaku awak selama latihan penerbangan. Pernyataan tersebut menjadi dasar bagi evaluasi atas penanganan aktivitas pengambilan foto dan video di udara.
Sebagai konsekuensi, pilot yang dinilai paling bertanggung jawab telah menerima sanksi berat. Ia diskors dari tugas penerbangan dan diwajibkan mengganti sekitar sepersepuluh dari total biaya kerusakan yang ditimbulkan akibat tabrakan.


