Kementerian ESDM Dorong Pembangunan Pabrik Metanol Untuk Dukung B50
Sebagai langkah untuk mendukung implementasi biodiesel B50, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) gencar mendorong pembangunan pabrik metanol di dalam negeri. Hal ini bertujuan untuk memastikan ketersediaan bahan baku yang diperlukan serta memperkuat swasembada energi nasional.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa lonjakan kebutuhan metanol untuk proses produksi B50 menuntut adanya fasilitas pengolahan metanol yang memadai. Kementerian berencana membangun pabrik di dua lokasi strategis di Bojonegoro, Jawa Timur, dan Kalimantan Timur untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Focus Pembangunan Pabrik Metanol di Bojonegoro dan Kalimantan Timur
Proyek pembangunan pabrik metanol akan difokuskan di Bojonegoro, Jawa Timur, dengan menggunakan gas alam sebagai bahan bakunya. Sementara itu, pembangunan pabrik di Kalimantan Timur akan mengimplementasikan skema hilirisasi batu bara. Targetnya, proses peletakan batu pertama proyek tersebut dilaksanakan pada bulan Juli.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, turut menambahkan detail teknis mengenai proses produksi metanol di kedua lokasi tersebut. Proyek di Bojonegoro akan mengandalkan pasokan gas alam dengan teknologi pengolahan uap, sedangkan di Kalimantan Timur, pemerintah akan memanfaatkan batu bara kalori rendah melalui proses gasifikasi.
Dengan adanya upaya ini, diharapkan ketersediaan metanol untuk pencampuran biodiesel dapat terpenuhi, sehingga implementasi B50 dapat berjalan lancar sesuai target yang ditetapkan.


