Menikmati menu buka puasa manis dan gorengan selama Ramadan memang sulit ditolak. Namun, ada dampak yang perlu diperhatikan terutama bagi kesehatan kulit. Saat berpuasa, tubuh rentan mengalami dehidrasi karena tidak mendapat asupan makanan dan minuman selama belasan jam. Kondisi ini dapat membuat kulit menjadi kering, kusam, dan rentan iritasi.
Menurut dr. Rachmah Diana Putri dari Fakultas Kedokteran IPB University, kekurangan cairan selama puasa dapat menurunkan vitalitas kulit, sehingga kulit bisa terasa kencang, kasar, berkerut, bahkan mengelupas. Dehidrasi juga menghambat sirkulasi darah ke kulit, membuat wajah terlihat pucat dan kusam. Selain itu, kulit juga dapat mengalami penumpukan sel kulit mati karena regenerasi kulit terhambat.
Menu buka puasa manis dan gorengan juga dapat mempengaruhi kondisi kulit. Makanan tinggi gula dan gorengan tinggi lemak jenuh bisa memunculkan jerawat dan beruntusan. Kurangnya asupan serat dari sayur dan buah juga dapat memperlambat detoksifikasi alami tubuh, yang bisa memperburuk kondisi kulit. Kurang tidur dan stres selama Ramadan juga dapat mempengaruhi kondisi kulit.
Untuk menjaga elastisitas dan kelembapan kulit selama puasa, disarankan untuk mengikuti pola minum 2-4-2, yaitu dua gelas air saat berbuka, empat gelas antara berbuka dan sahur, serta dua gelas saat sahur. Konsumsi buah tinggi air seperti semangka dan melon juga dapat membantu menjaga keseimbangan cairan. Hindari kafein dan minuman bersoda yang bersifat diuretik, serta batasi konsumsi gorengan dengan memilih sumber lemak sehat seperti alpukat, ikan salmon, dan kacang-kacangan.
Selain itu, menjaga menu buka puasa yang seimbang, mandi dengan air hangat, dan menggunakan pelembap setelah mandi juga dapat membantu menjaga kesehatan kulit selama Ramadan. Dengan memperhatikan asupan dan perawatan kulit dengan baik, kondisi kulit akan lebih stabil dan terjaga selama berpuasa.


