More

    Tanda dan Cara Mengatasi Masalah Emotional Eating

    Emotional Eating: Dampak dan Cara Menghadapinya

    Banyak orang tidak menyadari bahwa kebiasaan ngemil saat stres dapat berdampak serius pada kesehatan. Fenomena ini dikenal sebagai emotional eating, di mana seseorang makan bukan karena lapar fisik, tetapi karena dorongan emosi. Menurut Reisi Nurdiani, dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, perilaku ini dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan jika tidak ditangani.

    Makan dan kondisi psikologis memiliki hubungan erat. Mulai dari perasaan stres, sedih, hingga bahagia, semuanya dapat mempengaruhi pola makan seseorang. Namun, masalah muncul ketika kebiasaan ini menjadi cara untuk meredakan tekanan, bukan mencari solusi. Akibatnya, asupan kalori yang tinggi dari makanan comfort food dapat menyebabkan kenaikan berat badan, obesitas, dan risiko penyakit degeneratif.

    Kenali tanda-tanda emotional eating, seperti makan tanpa lapar, sulit mengontrol porsi, memilih jenis makanan tertentu, dan rasa bersalah setelah makan. Jika pola ini berulang, sebaiknya konsultasikan dengan psikolog dan ahli gizi untuk mendapatkan bantuan yang sesuai.

    Remaja dan dewasa muda cenderung rentan terhadap emotional eating karena tekanan akademik, sosial, dan pekerjaan yang tinggi. Oleh karena itu, penting untuk membangun kesadaran bahwa makanan bukanlah solusi utama untuk mengatasi stres.

    Untuk mengatasi emotional eating, penting untuk mengelola emosi dengan baik. Mengidentifikasi pemicu stres dan menemukan cara sehat untuk mengatasinya, seperti olahraga, meditasi, atau berbicara dengan orang terdekat, dapat membantu. Selain itu, menerapkan pola makan seimbang dan mindful eating, serta menjaga keseimbangan aktivitas fisik dan tidur, juga penting untuk menjaga kesehatan emosional dan fisik secara keseluruhan. Dengan langkah-langkah ini, kita dapat menghadapi keinginan makan berlebihan karena tekanan psikologis dengan lebih baik.

    Source link

    Berita Terbaru

    Related articles