More

    Harga Cabai Rawit Tembus Rp90.000/Kg, Ini Penyebabnya

    Harga cabai rawit di tingkat konsumen menembus Rp90.000 per kilogram pada Senin, 14 September 2026. Lonjakan harga tersebut terjadi ketika produksi di sentra cabai terganggu akibat cuaca panas ekstrem dan terbatasnya ketersediaan air.

    Gangguan itu berawal dari kondisi cuaca yang memengaruhi pasokan air untuk produksi. Ketika ketersediaan air terganggu, kegiatan produksi cabai di daerah sentra ikut terdampak. Situasi tersebut kemudian menekan pasokan hingga berimbas pada harga yang harus dibayar konsumen.

    Harga Rp90.000 per kilogram menunjukkan tekanan telah mencapai tingkat penjualan kepada masyarakat. Namun, informasi yang disampaikan tidak merinci harga cabai rawit di tingkat petani maupun mata rantai perdagangan lainnya sebelum komoditas tersebut sampai ke konsumen.

    Produksi di sentra cabai terdampak

    Cuaca panas ekstrem disebut sebagai pemicu utama kenaikan harga. Dampaknya tidak hanya berkaitan langsung dengan tanaman cabai, tetapi juga dengan ketersediaan air yang dibutuhkan dalam proses produksi di wilayah sentra.

    Ketika pasokan air tidak mencukupi, kemampuan sentra produksi dalam menyediakan cabai ikut terganggu. Penurunan atau hambatan produksi inilah yang memengaruhi ketersediaan cabai rawit di pasar dan mendorong harganya naik pada tingkat konsumen.

    Laporan tersebut tidak menyebutkan secara terperinci sentra cabai mana saja yang mengalami gangguan. Besaran perubahan produksi, volume pasokan yang terdampak, serta lamanya cuaca panas ekstrem berlangsung juga tidak dijelaskan.

    Selain itu, tidak tersedia perbandingan dengan harga pada hari atau periode sebelumnya. Karena itu, besarnya kenaikan secara nominal maupun persentase tidak dapat diketahui dari informasi yang tersedia. Angka yang dipastikan adalah harga cabai rawit di tingkat konsumen telah menembus Rp90.000 per kilogram.

    Tekanan harga sampai ke konsumen

    Kenaikan ini memperlihatkan kaitan langsung antara kondisi produksi di sentra dan harga di tingkat konsumen. Cuaca panas ekstrem mengganggu ketersediaan air, hambatan air memengaruhi produksi, dan terganggunya produksi menekan ketersediaan cabai rawit di pasar.

    Belum terdapat rincian mengenai apakah harga Rp90.000 per kilogram berlaku merata atau hanya ditemukan di pasar dan wilayah tertentu. Informasi mengenai kemungkinan perbedaan harga antarwilayah, kondisi stok di pasar, serta langkah penanganan dari pemerintah atau pelaku usaha juga tidak disertakan.

    Perkembangan harga cabai rawit tersebut disampaikan dalam program Profit CNBC Indonesia pada Senin, 14 September 2026. Laporan itu menempatkan cuaca panas ekstrem, gangguan ketersediaan air, dan terdampaknya produksi di sentra cabai sebagai rangkaian faktor yang mendorong harga di tingkat konsumen mencapai Rp90.000 per kilogram.

    Source link

    Berita Terbaru

    Related articles