Prabowo Menolak Pinjaman dari IMF: Kondisi Keuangan Indonesia Tetap Kuat
Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pemerintahannya telah menolak tawaran pinjaman dari Dana Moneter Internasional (IMF). Hal ini disampaikan saat penutupan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Menurut Prabowo, kondisi keuangan Indonesia masih dalam keadaan yang kuat sehingga tidak memerlukan pinjaman dari IMF.
Upaya Pengurangan Ketergantungan Pinjaman
Prabowo menjelaskan bahwa pemerintah berusaha untuk mengurangi ketergantungan terhadap pinjaman luar. Meskipun demikian, pemerintah tetap membuka peluang bagi investasi dari berbagai pihak. Apabila harus meminjam, Prabowo menekankan pentingnya tingkat bunga yang rendah.
“Kita sekarang berusaha tidak terlalu banyak berutang. Bisa dengan ajakan investasi, tetapi jika berutang, harus dengan bunga serendah mungkin,” ungkap Prabowo.
Pemangkasan BUMN dan Penghematan Negara
Prabowo juga memberitahukan bahwa pemerintah telah menutup 290 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dinilai tidak menguntungkan dan berkinerja buruk. Langkah ini berhasil menghemat sekitar Rp 50 triliun. Target pemerintah adalah menutup total 700 BUMN hingga akhir tahun, dengan perkiraan penghematan sekitar Rp 100 triliun yang sebelumnya digunakan untuk gaji direksi dan komisaris.
Selain itu, Prabowo mengungkapkan bahwa total penghematan negara dari berbagai sektor mendekati Rp 300 triliun setiap tahun. Dana tersebut direncanakan akan dialihkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi kemiskinan.
“Saya sudah hitung dengan cermat, kita akan berhasil mengangkat jutaan rakyat kita keluar dari kemiskinan,” tegas Prabowo.


