Otoritas Iran Kembali Melempar Minyak Mentah: Kini Dijual dengan Harga Premium
Jakarta, CNBC Indonesia – Kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pada 17 Juni lalu menandai penghapusan blokade angkatan laut AS. Sejak saat itu, otoritas Iran mengumumkan telah berhasil mengekspor lebih dari 40 juta barel minyak mentah dalam waktu dua pekan.
Kehadiran Iran di pasar minyak kembali menjadi sorotan setelah penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan AS. Dalam MoU tersebut, perjanjian empat bulan untuk menghentikan perang juga membuka kembali Selat Hormuz. Pasca-penandatanganan MoU, Iran berhasil menjual minyaknya dengan harga premium, sekitar 20% lebih tinggi dari harga sebelum perang terjadi. Hal ini membuat harga minyak jenis Brent turun drastis di pasar global.
Iran Menguasai Pasar Minyak Setelah Penghapusan Blokade Laut
Melalui wawancara televisi yang disiarkan melalui saluran Telegram, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa ekspor minyak Iran mencapai lebih dari 40 juta barel sejak AS mencabut blokade lautnya. Bahkan, perusahaan pelacakan kapal tanker, TankerTrackers.com, memperkirakan bahwa Iran telah berhasil mengekspor hingga 50 juta barel minyak mentah dengan memanfaatkan teknologi citra satelit dan identifikasi otomatis real-time.
Iran Berkeras dalam Menjaga Kedaulatan Selat Hormuz
Di tengah proses pemulihan selama 60 hari, Iran menyepakati pengaturan lalu lintas kapal barang di Selat Hormuz tanpa biaya tol. Namun, Iran menegaskan bahwa kedaulatan Selat Hormuz secara penuh berada di tangan mereka, menolak keras campur tangan dari pihak luar dalam mengatur jalur maritim strategis ini. Iran bersikeras untuk mempertahankan kontrol atas Selat Hormuz tanpa kompromi.
Tak hanya itu, Iran juga menolak tuntutan Presiden AS Donald Trump terkait penggunaan dana cadangan devisa Iran. Dana senilai US$ 12 miliar dari total US$ 24 miliar aset asing yang sebelumnya dibekukan akan digunakan untuk memborong produk pertanian Amerika tanpa campur tangan dari pihak AS.


