More

    Perdebatan Iran-AS: Perdamaian Masih Jauh

    Amerika Serikat & Iran Masih Jauh dari Kesepakatan Perdamaian

    Jakarta, CNBC Indonesia – Amerika Serikat (AS) dan Iran menghadapi tenggat waktu kurang dari 60 hari untuk mencapai kesepakatan damai permanen yang diharapkan dapat mengakhiri perang sekaligus menyelesaikan sengketa terkait program nuklir Teheran. Namun, menjelang batas waktu tersebut, kedua negara masih berbeda pandangan mengenai pelaksanaan kesepakatan sementara yang dicapai bulan ini.

    Perbedaan itu bahkan terlihat dari pernyataan masing-masing pihak mengenai kelanjutan perundingan. Washington mengklaim pembicaraan akan segera berlangsung di Qatar, sementara Teheran menegaskan tidak ada agenda negosiasi dengan AS dalam waktu dekat.

    Saling Bantah soal Jadwal Negosiasi

    Di tengah ketidakpastian tersebut, sejumlah persoalan utama juga belum menemukan titik temu. Mulai dari pengaturan pelayaran di Selat Hormuz, masa depan cadangan uranium Iran yang diperkaya pada tingkat tinggi, hingga konflik yang masih berlangsung di Lebanon masih membayangi upaya menuju kesepakatan damai permanen.

    Seorang negosiator senior Iran, Kazem Gharibabadi, bahkan mengakui proses diplomasi masih berada dalam situasi yang rumit. “Situasinya sensitif dan kompleks,” tulis Gharibabadi melalui platform X pada Senin.

    Banyak Isu Belum Terselesaikan

    Jalan menuju kesepakatan permanen masih panjang karena berbagai isu substansial belum berhasil diselesaikan. Selain pembahasan mengenai Selat Hormuz, kedua negara juga masih harus merundingkan pemberian pengecualian sanksi terhadap Iran serta masa depan stok uranium Iran yang telah diperkaya hingga tingkat tinggi.

    Kesepakatan sementara yang telah dicapai sebelumnya juga mengharuskan seluruh pertempuran dihentikan sebelum negosiasi lanjutan dapat dilaksanakan.

    Meski aktivitas pelayaran telah mulai pulih, jumlah kapal yang melintas masih berada di bawah kondisi sebelum perang.

    Selat Hormuz Masih Jadi Titik Panas

    Selat Hormuz menjadi salah satu isu yang paling sulit diselesaikan. Menurut kesepakatan sementara, jalur pelayaran internasional tersebut seharusnya telah kembali dibuka untuk aktivitas kapal-kapal komersial.

    Hambatan lain datang dari Lebanon. Iran menegaskan seluruh pertempuran harus dihentikan dan Israel wajib menarik seluruh pasukannya dari Lebanon sebelum pembahasan isu lain dilanjutkan.

    Situasi makin rumit karena terdapat dua jalur diplomasi yang berbeda. Iran menilai kesepakatan sementara dengan AS mewajibkan gencatan senjata penuh di Lebanon dan penarikan seluruh pasukan Israel.

    Hingga kini, Israel menegaskan pasukannya akan tetap berada di Lebanon selatan sampai ancaman Hizbullah benar-benar dihilangkan. Sementara itu, pemerintah Lebanon dinilai tidak memiliki kemampuan untuk melucuti senjata Hizbullah secara paksa.

    Source link

    Berita Terbaru

    Related articles