More

    Tips Menahan Lapar Saat Puasa Ramadan Tanpa Emosi di Media Sosial

    Selama bulan puasa Ramadan, banyak orang belajar untuk menahan lapar, haus, dan hawa nafsu sejak fajar hingga matahari terbenam. Namun, di era media sosial, kendali atas emosi terasa lebih sulit. Data Digital 2025 Global Overview Report mengungkapkan bahwa masyarakat Indonesia menghabiskan lebih dari 7 jam per hari di internet, terpapar oleh informasi dan konten tanpa henti. Paparan digital yang berlebihan dapat membuat otak mengalami overstimulasi, mengakibatkan daya tahan terhadap distraksi menurun. Keputusan kecil yang terus menerus diambil setiap hari juga dapat menyebabkan kelelahan mental, meningkatkan reaktivitas dan impulsivitas dalam bertindak.

    Selama bulan puasa, perubahan pola makan dan tidur dapat mempengaruhi stabilitas emosi dan energi seseorang. Sensitivitas meningkat dan kecenderungan untuk terpengaruh oleh emosi di media sosial juga menjadi lebih besar. Platform digital selalu menawarkan respons cepat dan sensasi penghargaan instan, yang membuat otak terbiasa dengan kepuasan yang cepat. Dalam kondisi energi yang rendah seperti saat berpuasa, otak lebih cenderung untuk memberikan respons berbasis emosi, meskipun sebenarnya penting untuk menahan reaksi.

    Menahan reaksi di dunia digital memang tidak mudah. Konsep wise mind dalam Dialectical Behavior Therapy (DBT) mengajarkan keseimbangan antara pikiran rasional dan emosi sebelum bertindak. Tantangannya, reaksi spontan seringkali muncul sebelum wise mind dapat bekerja. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat digital untuk tidak terlalu cepat bereaksi dan memberikan ruang bagi pikiran rasional untuk berfungsi sebelum bertindak.

    Source link

    Berita Terbaru

    Related articles