Harga Bitcoin kembali tertekan pada perdagangan Selasa, sempat jatuh ke bawah USD 64.000 di tengah meningkatnya ketegangan tarif dan memanasnya risiko geopolitik global. Pelemahan lebih dari 5% ini menandai betapa sensitifnya aset berisiko terhadap perubahan sentimen pasar, terutama ketika ketidakpastian ekonomi dan politik internasional masih tinggi.
Tekanan datang dari sentimen risiko global
Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung lebih berhati-hati dan memilih mengurangi eksposur pada aset yang dianggap volatil. Pergerakan Bitcoin pun ikut terseret bukan karena masalah spesifik di industri kripto, melainkan karena pasar sedang menyesuaikan diri dengan suasana risk-off yang lebih luas. Artinya, tekanan jual yang muncul lebih banyak dipicu oleh kekhawatiran makro ketimbang oleh isu internal aset digital itu sendiri.
Invesco: bukan guncangan khusus kripto
Menurut Kepala Solusi Investasi Klien Asia Pasifik di Invesco, Christopher Hamilton, pelemahan Bitcoin kali ini bukan disebabkan oleh faktor khusus di sektor kripto. Ia menilai perubahan sentimen risiko secara umum jauh lebih dominan dalam mendorong penurunan harga. Dengan kata lain, Bitcoin sedang ikut menanggung dampak dari kehati-hatian investor terhadap kondisi global yang belum stabil.
Investor masih menunggu arah pasar
Di tengah situasi yang serba tidak pasti, banyak investor memilih bersikap wait and see sambil melakukan pengurangan risiko secara taktis. Kondisi ini membuat ruang pemulihan Bitcoin menjadi lebih terbatas dalam jangka pendek, selama pasar belum memperoleh kejelasan soal arah ketegangan global dan dampaknya terhadap ekonomi.
Liputan6.com menekankan bahwa setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca, dan disarankan untuk melakukan riset serta analisis sebelum melakukan transaksi kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang mungkin timbul akibat keputusan investasi.
Source link


