CNBC Indonesia meluncurkan ESG Sustainability Forum 2026 dengan tema “Akselerasi Agenda Hijau: Menjembatani Kepentingan Bisnis dan Keberlanjutan” sebagai wadah penting untuk meningkatkan pemahaman, mendorong kolaborasi lintas sektor, dan mengeksplorasi peluang investasi hijau. Eddy Soeparno, Wakil Ketua MPR, menyoroti urgensi penerapan ESG (Environmental, Social, and Governance) sebagai komitmen nyata dalam melawan degradasi lingkungan dan krisis iklim. Ancaman seperti hujan ekstrem, banjir, kekeringan, dan kebakaran hutan menuntut implementasi ESG sebagai landasan untuk menjaga keberlanjutan lingkungan dan mendukung pertumbuhan ekonomi hingga 8%.
Ary Sudijanto, Deputi Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon Kementerian Lingkungan Hidup, menegaskan bahwa penerapan ESG bukan hanya opsi tetapi kewajiban yang bersumber dari perlunya menghadapi dampak destruktif perubahan iklim. Indonesia, sebagai negara yang sangat rentan terhadap perubahan iklim, harus fokus pada upaya adaptasi dan mitigasi melalui ESG. Tiza Mafira, Director Climate Policy Initiative, menyoroti peran CPI sebagai lembaga riset independen yang fokus pada pendanaan hijau dan transisi hijau dalam menghadapi tantangan iklim.
Meski pembiayaan aksi iklim di Indonesia mayoritas berasal dari dalam negeri, investasi hijau masih membutuhkan dukungan pemerintah untuk menarik minat investor swasta. Dialog antara Safrina Nasution dengan para pemangku kepentingan dalam ESG Sustainability Forum 2026 menggali lebih jauh upaya, strategi, dan tantangan dalam menerapkan ESG serta memajukan pembiayaan dan investasi sektor hijau di Indonesia.


