Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) merupakan sektor padat karya yang memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Sektor ini mampu menyerap sekitar 3,75 juta tenaga kerja dan menyumbang devisa ekspor mencapai US$ 6,92 miliar. Namun, pada triwulan III-2025, kinerja industri TPT menunjukkan tantangan dengan pertumbuhan PDB hanya sekitar 0,93% (yoy). Industri tekstil juga mengalami defisit neraca perdagangan dan disparitas utilisasi produksi yang signifikan antara pakaian jadi dan tekstil. Hal ini mengakibatkan penurunan kinerja dan potensi kemungkinan terjadinya pemutusan hubungan kerja serta penutupan pabrik.
Menurut data dari Asosiasi Produsen Serat & Benang Filamen Indonesia (APSyFI), sudah terdapat 5 pabrik tekstil yang menghentikan produksi dan diperkirakan akan terjadi pemutusan hubungan kerja sebanyak 3.000 pekerja. Dida Gardera dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan bahwa industri TPT bisa dianggap sebagai “sunset industry” karena masih banyak tantangan yang dihadapi, seperti persaingan dengan produk impor yang memiliki harga dumping. Untuk meningkatkan kinerja industri TPT, perlu adanya sinkronisasi dari berbagai pemangku kepentingan dalam merumuskan arah kebijakan yang lebih baik.
Kemenko Perekonomian dan Prospera menemukan bahwa industri tekstil memiliki peluang signifikan untuk tumbuh, terutama melalui pengembangan high value garments dan sustainable materials yang saat ini menjadi fokus permintaan pasar global. Namun, masih terdapat tantangan struktural seperti kesenjangan kompetensi SDM, ketergantungan bahan baku impor, dan tingginya biaya energi dan logistik. Rekomendasi prioritas mencakup proteksi pasar domestik, peningkatan kapasitas industri, dan fokus pada produk bernilai tambah tinggi serta material berkelanjutan.
Untuk menghadapi tantangan ini, Kementerian PPN/Bappenas dan Kementerian Perindustrian berkomitmen untuk melakukan upgrade ke nilai tambah yang lebih tinggi dalam industri TPT melalui berbagai strategi, termasuk transformasi menuju industri hijau, sirkular, dan digital (Industri 4.0). Dengan integrasi rekomendasi kebijakan yang kuat, diharapkan industri TPT Indonesia bisa menghadapi tantangan dan memperbaiki kinerja ke depannya.


