Media sosial telah menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari, tetapi masih banyak orangtua yang khawatir tentang dampaknya, terutama bagi anak-anak dan remaja. Meskipun media sosial memiliki manfaatnya, penggunaan yang berlebihan tanpa pengawasan orang tua dapat berdampak negatif pada perkembangan anak. Menurut Cleveland Clinic, remaja yang menghabiskan lebih dari tiga jam sehari di media sosial cenderung mengalami depresi dan kecemasan yang tinggi. Oleh karena itu, peran orang tua dalam mengedukasi anak tentang penggunaan media sosial menjadi sangat penting.
Kate Eshleman, seorang psikolog anak dari Amerika Serikat, mengatakan bahwa media sosial memberikan kemudahan bagi seseorang untuk membandingkan diri dengan orang lain. Namun, perlu diingat bahwa apa yang ditampilkan di media sosial hanyalah bagian dari realitas dan tidak mencerminkan sepenuhnya kehidupan seseorang. Remaja, terutama yang rentan terhadap pengaruh media sosial, seringkali merasa tertekan dan stres karena tidak dapat memenuhi standar kecantikan yang ditampilkan.
Selain itu, perundungan daring atau cyberbullying sering terjadi di media sosial, di mana 64 persen remaja mengaku sering terlibat dalam unggahan kebencian. Perundungan ini dapat menyebar dengan cepat dan menciptakan lingkungan online yang tidak aman. Selain itu, fenomena predator daring juga menjadi kekhawatiran, dengan enam dari sepuluh remaja perempuan yang mengaku sering dihubungi oleh orang asing melalui media sosial.
Untuk menghadapi tantangan ini, penting bagi orang tua untuk berkomunikasi dengan anak-anak dan memantau aktivitas online mereka. Memastikan bahwa lingkungan internet adalah tempat yang aman bagi anak-anak untuk berkomunikasi juga menjadi tanggung jawab bersama. Dengan pemahaman tentang dampak negatif media sosial dan langkah-langkah pencegahan yang tepat, orang tua dapat membantu anak-anak mereka menggunakan media sosial secara sehat dan bertanggung jawab.


