Cedera saraf sering kali dianggap hanya mengintai atlet yang berlatih keras. Padahal, masalah ini juga bisa muncul pada pekerja kantoran yang duduk berjam-jam, ibu rumah tangga yang melakukan gerakan berulang, hingga siapa pun yang tanpa sadar mempertahankan postur tubuh yang salah. Kebiasaan sederhana seperti membungkuk terlalu lama atau duduk tidak seimbang dapat memberi tekanan pada saraf dan memicu keluhan yang kerap diabaikan.
Postur Buruk dan Gerakan Berulang Jadi Pemicu
Dalam banyak kasus, gangguan saraf tidak datang secara tiba-tiba. Tekanan kecil yang berlangsung terus-menerus bisa menumpuk dan membuat tubuh kehilangan keseimbangan postur. Akibatnya, rasa nyeri dapat muncul di punggung, bahu, atau menjalar menjadi kesemutan di tangan. Kondisi seperti ini sering dianggap sepele, padahal bisa menjadi tanda awal adanya masalah pada saraf.
Pemeriksaan Rutin Jadi Langkah Pencegahan
Dokter spesialis saraf atau neurologi, Irca Ahyar, menyarankan pemeriksaan saraf dilakukan secara berkala, terutama bagi mereka yang aktif bergerak. Menurutnya, pemeriksaan ini penting untuk mendeteksi ketidakseimbangan sejak dini sebelum berkembang menjadi cedera yang lebih serius. Hasil pemeriksaan juga dapat menjadi dasar penyusunan terapi personal sesuai kebutuhan masing-masing pasien.
Irca menjelaskan bahwa keluhan nyeri tidak selalu menunjukkan lokasi pasti sumber masalah saraf. Karena itu, pemeriksaan rutin membantu tenaga medis menemukan persoalan dengan lebih akurat, bukan sekadar mengandalkan rasa sakit yang dirasakan pasien.
Disampaikan dalam Acara di Bintaro
Pernyataan tersebut disampaikan Irca saat acara DRI CONNECT: Media & Community Day yang diadakan oleh DRI Clinic di Bintaro, Tangerang Selatan. Lewat forum itu, pesan yang disorot cukup jelas: cedera saraf bukan hanya urusan olahraga, tetapi juga soal kebiasaan harian yang sering kali dianggap biasa.


