More

    Surga Belanja Tas Tajur Bogor: Tips untuk Pedagang Bongkar Borok

    Surga Belanja Tas Tajur Bogor Mulai Pudar, Pedagang Bertahan di Tengah Serbuan Online

    Nama Tajur di Bogor, Jawa Barat, dulu identik dengan deretan toko tas yang ramai diserbu pembeli. Namun kini, suasananya jauh berbeda. Sentra tas yang sempat dikenal sebagai tujuan belanja utama itu mengalami penurunan aktivitas tajam sejak pandemi Covid-19. Dari puluhan gerai yang pernah hidup, hanya lima toko yang disebut masih bertahan, sementara sisanya tutup satu per satu.

    Sepi sejak pandemi, pelanggan bergeser ke marketplace

    Menurut karyawan beberapa toko tas di kawasan tersebut, sepinya pengunjung mulai terasa sejak pandemi Covid-19 dan tidak benar-benar pulih hingga sekarang. Pola belanja masyarakat berubah cepat, dari datang langsung ke toko menjadi berburu tas lewat marketplace. Situasi itu membuat arus pembeli ke Tajur terus menyusut.

    Para karyawan juga menuturkan bahwa banyak toko tas di Tajur gulung tikar bukan hanya karena pandemi, tetapi juga karena persaingan yang makin berat dengan toko online. Barang dari China yang membanjiri pasar ikut menekan penjualan, terutama karena harga yang lebih murah dan pilihan yang lebih beragam.

    Beberapa toko masih bertahan, tetapi pengunjung minim

    Meski kondisi kawasan terlihat lesu, sejumlah nama masih bertahan, di antaranya Bogor Tas, Sumber Tas Tajur, SKI Tajur, dan Donatello. Namun, keberadaan mereka tidak lagi diiringi keramaian seperti masa jayanya. Aktivitas pembeli disebut sangat minim, membuat suasana sentra tas legendaris itu jauh dari hiruk-pikuk yang dulu menjadi ciri khasnya.

    Sementara itu, beberapa gerai lain sudah benar-benar berhenti beroperasi. Terminal Tas, misalnya, disebut telah tutup dan kini lokasi tersebut digantikan oleh toko mebel. Perubahan ini menandai betapa besar pergeseran yang terjadi di Tajur, dari pusat belanja tas menjadi kawasan dengan wajah usaha yang berbeda.

    Era toko tas Tajur dipaksa berhadapan dengan perubahan zaman

    Kondisi Tajur menunjukkan bahwa sentra perdagangan tradisional tak lagi bisa mengandalkan nama besar saja. Ketika konsumen semakin nyaman berbelanja online dan pasar dipenuhi produk impor berharga miring, toko fisik seperti yang ada di Tajur harus menghadapi tekanan berlapis.

    Bagi pedagang yang masih bertahan, situasi ini bukan sekadar soal menunggu pembeli datang, melainkan soal bertahan di tengah perubahan perilaku belanja yang sudah telanjur bergeser. Dari kawasan yang dulu disebut surga belanja tas, Tajur kini lebih sering dikenang sebagai contoh bagaimana pandemi dan persaingan digital bisa mengubah nasib sebuah sentra dagang dalam waktu singkat.

    Berita Terbaru

    Related articles