More

    Cara Mengurangi Risiko Rabun Jauh pada Anak

    Rabun jauh atau mata minus pada anak kian sering dibicarakan, terutama di tengah kebiasaan anak yang makin akrab dengan gawai. Kondisi ini membuat benda yang jauh tampak buram karena cahaya tidak jatuh tepat pada retina. Meski layar sering disalahkan, risiko mata minus sebenarnya juga dipengaruhi oleh kurangnya waktu bermain di luar ruangan dan faktor keturunan.

    Waspadai Kebiasaan yang Diam-Diam Membebani Mata

    Penggunaan layar yang terlalu lama menjadi salah satu kebiasaan yang patut diwaspadai. Anak yang terus-menerus menatap ponsel, tablet, atau perangkat lain tanpa jeda berisiko membuat mata bekerja lebih keras. Di sisi lain, minimnya aktivitas di luar ruangan juga ikut memperbesar peluang terjadinya rabun jauh. Karena itu, orangtua tidak cukup hanya membatasi gawai, tetapi juga perlu melihat pola aktivitas harian anak secara menyeluruh.

    Langkah Sederhana yang Disarankan Dokter

    Dokter mata, Artha Latief, menyarankan orangtua untuk rutin memeriksakan kondisi mata anak. Pemeriksaan berkala penting agar gangguan penglihatan bisa diketahui lebih awal. Selain itu, ada beberapa langkah yang dapat membantu menjaga kesehatan mata anak, seperti membatasi waktu penggunaan layar, mendorong anak lebih sering beraktivitas di luar ruangan, memastikan pencahayaan ruangan cukup, mengaktifkan mode malam atau filter sinar biru pada perangkat elektronik, serta menghindari kebiasaan tidur dengan lampu menyala.

    Peran Orangtua Menjadi Kunci

    Upaya mencegah mata minus pada anak pada dasarnya berangkat dari kebiasaan sehari-hari. Orangtua perlu lebih peka terhadap cara anak menggunakan gawai dan memastikan mata mereka tidak terus-menerus mendapat beban berlebih. Dengan pengawasan yang konsisten dan rutinitas yang lebih sehat, risiko rabun jauh pada anak diharapkan bisa ditekan tanpa harus menunggu keluhan muncul lebih dulu.

    Berita Terbaru

    Related articles