Kisah Victor Axelsen: Tinggalkan Pelatnas, Bangun Basis Latihan di Dubai
Victor Axelsen kembali menjadi bahan pembicaraan bukan hanya karena statusnya sebagai salah satu tunggal putra paling dominan di dunia, tetapi juga karena langkah besar yang ia ambil di luar lapangan. Setelah menorehkan sederet gelar bergengsi, pebulu tangkis asal Denmark itu memilih keluar dari Pelatnas Denmark dan membangun pusat latihannya sendiri di Dubai, Uni Emirat Arab.
Langkah Berani Setelah Puncak Karier
Axelsen bukan nama sembarangan di bulu tangkis putra. Ia telah mengoleksi 27 gelar juara, termasuk dari ajang prestisius seperti All England, Indonesia Open, dan China Open. Prestasinya juga lengkap: dua kali juara dunia serta peraih emas Olimpiade pada Tokyo 2020 yang digelar pada 2021, lalu kembali meraih emas di Paris 2024. Di tengah pencapaian itu, keputusannya meninggalkan Pelatnas Denmark setelah sukses di Tokyo menjadi salah satu momen paling menentukan dalam kariernya.
Sejak Agustus 2021, Axelsen menjalani jalur independen. Keputusan itu bukan sekadar soal tempat berlatih, melainkan perubahan besar dalam cara ia mengelola hidup dan kariernya. Ia bahkan memindahkan keluarganya ke Dubai, menjadikan kota tersebut sebagai basis utama untuk persiapan, pemulihan, dan mobilitas menuju turnamen-turnamen besar.
Mengapa Dubai?
Dubai dipilih Axelsen bukan tanpa alasan. Letaknya yang strategis membuatnya lebih mudah menjangkau rangkaian turnamen bulu tangkis yang sebagian besar berlangsung di Asia. Bagi pemain dengan jadwal padat dan tuntutan fisik tinggi, faktor lokasi menjadi penting karena bisa memangkas perjalanan panjang dan memberi ruang pemulihan yang lebih baik.
Alasan kesehatan ikut berperan
Selain pertimbangan logistik, kondisi kesehatan juga memengaruhi keputusan tersebut. Axelsen diketahui mengalami asma dan rhinitis akut. Dengan tinggal di Dubai, ia bisa mengatur ritme latihan dan istirahat dengan lebih fleksibel di antara turnamen. Pola seperti ini memberinya kendali lebih besar atas tubuhnya sendiri, sesuatu yang sangat krusial bagi atlet yang bertarung di level elite.
Pilihan Axelsen membangun “padepokan” sendiri di Dubai memperlihatkan bagaimana seorang juara dunia tak hanya mengandalkan bakat dan prestasi, tetapi juga keberanian mengambil keputusan yang tidak biasa demi menjaga performa tetap tajam di tengah persaingan yang terus berubah.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.


