Muktamar X Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang berlangsung di Ancol, Jakarta berakhir dengan penyerahan yang tidak sesuai. Konflik antara dua kubu pendukung calon ketua umum menyebabkan kerusuhan dan luka-luka di kalangan peserta. Sekretaris DPC PPP Kabupaten Merangin, Jambi, Muchlisin mengecam kejadian tersebut sebagai upaya sengaja untuk mengganggu proses demokrasi partai. Dia menyatakan bahwa tindakan kekerasan tidak sesuai dengan semangat kontes demokrasi yang sebenarnya.
Muchlisin juga mengkritik kehadiran mantan koruptor yang seringkali mengaku sebagai perwakilan PPP di media. Menurutnya, hal ini bisa menjadi bagian dari alasan kegagalan partai dalam Pemilu 2024. Ketua Umum terpilih Muhamad Mardiono juga mengutuk keras tindakan kekerasan yang terjadi, menegaskan bahwa hal tersebut merusak proses demokrasi yang sedang berlangsung. Tiga kader yang menjadi korban dari Pandeglang dan Sulawesi Selatan juga harus dilarikan ke rumah sakit karena cedera serius akibat lemparan kursi.
Mardiono menegaskan bahwa aksi kekerasan seperti ini adalah tindakan kriminal yang harus diusut tuntas oleh pihak berwenang. Dia menekankan pentingnya penegakan hukum dalam kasus-kasus semacam ini untuk memastikan keamanan dan ketertiban dalam proses politik yang sedang berjalan. Sementara itu, Muchlisin juga mengecam tindakan anarkis tersebut yang hanya akan merusak citra partai dan proses demokrasi yang seharusnya berjalan dengan damai.


