Pembangunan WC dengan sistem arisan terus berkembang di desa yang terletak 1,5 km dari objek wisata Batu Jato. Dalam seminggu, sebanyak 20 WC berhasil dibangun oleh 20 RT yang ada di desa tersebut. Hal ini berkat gotong royong dan kekompakan antara warga desa dalam membangun WC dan mengedukasi tentang pentingnya menghentikan kebiasaan buang air besar sembarangan (BABS).
Anto menjelaskan bahwa setiap RT mampu menyelesaikan pembangunan satu WC dalam satu minggu, sehingga total terdapat 20 WC yang dibangun setiap minggunya. Yonis menambahkan bahwa saat ini masyarakat tidak memiliki alasan lagi untuk tidak memiliki WC, karena desa sudah memiliki sistem air bersih yang baik. Saat membangun rumah baru, warga desa secara otomatis juga membangun WC sebagai bagian dari fasilitas rumah tangga.
Desa ini telah menjadi pelopor deklarasi ODF (Open Defecation Free) di wilayah Sekadau, Kalimantan Barat. Pada tanggal 13 Desember 2015, desa tersebut berhasil mencapai status ODF. Keberhasilan ini membuat Anto dan perangkat desa sering diundang untuk memberikan materi, edukasi, dan praktik kepada desa-desa lain agar segera juga mendeklarasikan diri sebagai ODF.
Pencapaian tersebut kemudian meluas hingga tingkat kecamatan pada tahun 2023 dan di tingkat kabupaten pada tanggal 7 Agustus 2025. Dengan adanya kerjasama dan kesadaran masyarakat, desa ini telah berhasil menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat dengan menghilangkan kebiasaan buang air besar sembarangan.


