More

    Negara Kaya Minyak Terancam Krisis Energi, Listrik Padam 36 Jam

    Libya, negara dengan cadangan minyak mentah terbukti terbesar di Afrika Utara, menghadapi krisis energi yang semakin parah. Pemadaman listrik berlangsung hingga 36 jam di sejumlah wilayah, sementara antrean bensin membentang sampai dua kilometer. Gelombang panas, keterbatasan bahan bakar, penyelundupan, serta infrastruktur yang rusak membuat aktivitas bisnis dan kehidupan warga terganggu.

    Dilansir Arab News, Senin (21/9/2026), situasi tersebut menjadi ironi bagi Libya yang sedang berupaya meningkatkan ekspor gas ke Eropa. Negara itu bahkan menghabiskan sekitar US$1 miliar atau Rp17,6 triliun per bulan untuk mengimpor bahan bakar, menurut Utusan Khusus PBB untuk Libya Hanna Tetteh. Dalam pengarahan pada Agustus, Tetteh menyebut krisis pemadaman tersebut sebagai “paradoks yang mencolok”.

    Pemadaman menggerus bisnis

    Di Qasr Bin Ghashir, distrik di selatan Tripoli, listrik dapat padam selama 36 jam. Naseem Al-Akkari, pemilik jaringan restoran di ibu kota, memperkirakan kerugiannya mencapai US$40.000 atau sekitar Rp704 juta dalam beberapa bulan terakhir. Ia mengatakan restorannya harus terus mengoperasikan generator agar bahan makanan tidak membusuk.

    “Generator harus terus menyala untuk mencegah barang membusuk. Anda tidak punya pilihan selain membeli solar dari pasar gelap agar tetap beroperasi,” kata Akkari. Ia menyebut pemadaman terjadi lebih dari 10 kali dalam satu sesi wawancara.

    Untuk menjaga usahanya tetap berjalan, Akkari menghabiskan sekitar 10.000 dinar Libya, hampir US$1.600 atau Rp28,16 juta, setiap hari untuk bahan bakar generator. Dampaknya juga dirasakan Sufian Boushaala, manajer toko kue keluarga di Benghazi, Libya timur. Pemadaman memaksa toko tersebut mengurangi jumlah pekerja dan terkadang tutup sepanjang hari.

    Gangguan listrik juga menghentikan pasokan air dari Proyek Sungai Buatan Raya, jaringan pipa yang mengalirkan air tanah dari Sahara. Pemutusan itu terjadi setelah Perusahaan Listrik Umum Libya atau GECOL mengumumkan pemadaman total. GECOL tidak menanggapi permintaan wawancara mengenai krisis tersebut.

    Harga solar pasar gelap melonjak

    Kelangkaan bahan bakar terjadi di wilayah timur dan barat Libya, yang masih berada di bawah administrasi pemerintahan saingan sejak perang saudara pada 2014. Antrean di stasiun pengisian bahan bakar dapat mencapai dua kilometer. Harga solar di pasar gelap melonjak menjadi 11 dinar per liter, sekitar US$1,70 atau Rp29.920, sedangkan harga subsidi resmi hanya 0,15 dinar.

    Jalel Harchaoui, kontributor Royal United Services Institute, mengatakan gelombang panas menjadi pemicu langsung karena penggunaan pendingin udara meningkat dan membebani jaringan listrik. Krisis itu diperburuk oleh turunnya produksi gas alam, sehingga sejumlah pembangkit harus menggunakan bahan bakar cair yang pasokannya ikut terkuras akibat penyelundupan.

    Menurut kelompok pengawas asal Amerika Serikat, The Sentry, penyelundupan bahan bakar merugikan warga Libya sekitar US$6,7 miliar atau Rp117,92 triliun per tahun. Lebih dari separuh bahan bakar impor diperkirakan disedot jaringan kriminal untuk dijual secara ilegal ke luar negeri.

    Infrastruktur rusak dan pasokan tersendat

    Ahmad Al-Mesllati, juru bicara Brega Petroleum Marketing, menyebut sembilan tangki penyimpanan di Tripoli yang hancur dalam perang 2014 belum diperbaiki. Secara teori, lima kilang utama Libya mampu memproses sekitar 380.000 barel per hari. Namun, laporan Badan Audit dan Otoritas Nasional Antikorupsi Libya pada Juni menunjukkan produksi aktual jauh lebih rendah.

    Serangan drone pada bulan lalu juga menghantam kompleks minyak di Zawiya, lokasi kilang utama Libya. Selain itu, gangguan pelayaran melalui Selat Hormuz menunda sebagian pengiriman bahan bakar hingga 12 hari.

    Tim Eaton dari Chatham House menilai krisis tersebut mencerminkan korupsi yang mendapat perlindungan politik dan disfungsi kelembagaan. Menurutnya, Libya mengimpor bahan bakar lebih banyak daripada kebutuhan pembangkit listrik, tetapi pasokan itu menghilang sebelum sampai kepada masyarakat. “Rakyat Libya menanggung biayanya dan mendapat sedikit imbalan,” ujar Eaton.

    Brega Petroleum Marketing telah mengoperasikan stasiun pengisian keliling dengan batas maksimal 300 liter per kendaraan. Namun, antrean tetap berlangsung berjam-jam. “Kami hidup melalui sebuah lelucon, lelucon yang keterlaluan,” kata warga Tripoli, Khaled Al-Turki. “Apakah masuk akal jika negara penghasil minyak tidak dapat menemukan solusi untuk kekurangan bensin dan solar? Negara macam apa ini?”

    Source link

    Berita Terbaru

    Related articles