ARTSUBS 2026 membawa lebih dari 120 seniman ke Surabaya dengan satu pertanyaan utama: sejauh mana batas medium masih dapat dipertahankan, diolah, atau justru dilampaui? Memasuki penyelenggaraan tahun ketiga, pameran bertema “Border, Threshold, and Beyond” ini menghadirkan lukisan, instalasi, seni kinetik, hingga karya yang mempertemukan seni rupa dengan arsitektur, desain, bunyi, dan gerak.
Pameran akan berlangsung pada 19 September hingga 8 November 2026 di kompleks Alun-alun Kota Surabaya, Balai Pemuda. Selama hampir tujuh minggu, pengunjung dapat menjelajahi lima zona pameran: aula utama, selasar, area tenda, ruang Mata Nesia, dan basement. Area Annex berfungsi sebagai penghubung antarruang.
Dari kanvas yang berubah menjadi objek
Gagasan tentang batas medium tampak sejak pengunjung memasuki area pameran. Karya Nyoman Nuarta, antara lain replika desain Gedung IKN, Borobudur melayang, dan burung merak, menjadi salah satu perhatian. Seniman sekaligus arsitek itu dikenal banyak mengeksplorasi teknik oksidasi perunggu.
Eksperimen berbeda ditampilkan Taufik Ermas, perupa lulusan Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Melalui pendekatan modified canvas, ia membuat karya yang secara visual seolah-olah merobek kanvas. Karya “Morphing Alibis, Rhetoric of The Endless Argument”, “The Teathere of South”, serta enam karya berukuran 50 x 50 sentimeter bertajuk “Armchair Philosopher” memperlihatkan kanvas sebagai objek spasial, bukan sekadar bidang dua dimensi.
Praktik Taufik mencakup shaped canvas, permukaan bergelombang, cut-out painting, lapisan transparan, tekstur timbul, dan perubahan struktur bidang. Pendekatan tersebut digunakan untuk mengeksplorasi memori, persepsi, serta kondisi keberadaan yang terus berubah. Ia pernah menjadi finalis The Sovereign Asian Art Prize di Hong Kong pada 2020, Indonesia Art Awards pada 2010, dan Artmosphere Academic Art Awards pada 2007, serta mengikuti residensi di GloART, Belgia, dan NuArt Sculpture Park, Bandung.
Nuansa lain hadir melalui karya botanical paint. “Before The Seed” dan “The Art of Becoming” karya Dufeta Devy, “The Eternal Beauty” karya Prima Milawati, “Pocket Flora: Orchids of Java” karya Rio Ananta Prima, serta “Nyanyian Sunyi” karya Diandra R. Amelia mengangkat detail anatomi tumbuhan. Karya “A Garden Alice Forgot” milik Gabriela Eva, berukuran 260 x 170 sentimeter, menyambut pengunjung sejak pintu masuk.
ARTSUBS juga menghadirkan karya kinetik Bagas Karunia Putra atau Bagas KP, “Masuk Telinga Kanan Keluar Telinga Kiri” dan “Tanjakan”. Mekanisme gerak pada karya tersebut menghasilkan bunyi, sehingga pengalaman pengunjung tidak berhenti pada aktivitas melihat.
Museum Portabel dan konteks Surabaya
Kurator ARTSUBS, Asmudjo Jono Irianto, menjelaskan bahwa “Border” dapat dibaca sebagai batas medium yang masih dipertahankan, sedangkan “Beyond” merujuk pada praktik yang melampaui batas tersebut. Contohnya, lukisan yang dibuat di luar kanvas atau berkembang menjadi objek tiga dimensi.
Menurut Asmudjo, seni rupa kontemporer juga bergerak melalui teknologi digital, new media, dan kecerdasan buatan, tanpa harus meninggalkan medium tradisional seperti lukisan, patung, keramik, dan printmaking. Keterlibatan arsitek serta desainer menunjukkan adanya persilangan antardisiplin.
Salah satu proyek utama pameran ini adalah Museum Portabel, hasil kerja kolaboratif tujuh seniman dan kurator dari kelompok Kantor Bersama Urusan Seni Rupa (KBUSR). Asmudjo menyebut proyek tersebut sebagai ironi sekaligus parodi atas keterbatasan museum seni rupa di Indonesia, khususnya Surabaya. “Di Surabaya kan tidak ada museum seni rupa,” ujarnya.
ARTSUBS tidak dirancang hanya untuk merepresentasikan seni rupa Surabaya. Pameran ini menampilkan seniman dari Jawa, Bali, wilayah lain di Indonesia, serta seniman asing yang tinggal di Indonesia. Sekitar 11 seniman muda juga terpilih melalui mekanisme open call. Seniman lokal dari Surabaya, Malang, dan daerah lain di Jawa Timur tetap memperoleh ruang.
Asmudjo mengatakan ARTSUBS merupakan inisiatif swasta yang mendapat dukungan Pemerintah Kota Surabaya. Penyelenggara harus mengubah lokasi yang bukan gedung pameran khusus melalui pembangunan panel, penataan ruang, logistik, serta pengiriman dan pemasangan karya.
Pada penyelenggaraan pertama, pameran dikunjungi lebih dari 25.000 orang. Penyelenggaraan kedua mencatat jumlah yang kurang lebih serupa, meski ditutup lebih awal karena situasi saat itu. Tahun ini, durasi pameran yang mencapai hampir tujuh minggu diharapkan membuka akses lebih luas bagi masyarakat untuk berhadapan langsung dengan seni rupa kontemporer.


