Malam puncak peringatan Hari Ulang Tahun ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta Convention Center, Jakarta, Jumat malam, 18 September 2026, dirancang bukan semata sebagai perayaan internal partai. Para tamu kehormatan yang hadir justru berasal dari kelompok masyarakat yang disebut sebagai pejuang ekonomi Indonesia, mulai dari petani hingga pengemudi ojek online.
Konsep acara tersebut disusun Sekretaris Jenderal DPP PAN Eko Hendro Purnomo atau Eko Patrio sejak tahap awal persiapan. Ia menginginkan rangkaian acara yang kreatif dan menghibur, tetapi tetap berlangsung khidmat. Prinsip itu kemudian diterapkan melalui pemilihan tamu, susunan seremoni, serta penampilan para kader PAN di atas panggung.
Pejuang ekonomi ditempatkan di kursi kehormatan
Perwakilan guru honorer, pengemudi ojek online, petani, komunitas nelayan, guru PAUD, tenaga kesehatan, dan pelaku UMKM mendapat tempat di area tamu kehormatan. Kehadiran mereka menjadi bagian penting dari gagasan acara yang menurut Eko tidak berfokus pada partai, melainkan pada masyarakat yang diundang.
Acara diawali dengan lagu Indonesia Raya dan Mars PAN. Setelah itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti memimpin pembacaan doa. Rangkaian seremoni kemudian berlanjut dengan hiburan dari sejumlah kader PAN.
Pasha Ungu, Ike Nurjanah, Astrid Kuya, dan Adelia Pasha tampil membawakan lagu-lagu bertema cinta negeri dan harapan. Desy Ratnasari turut mengisi acara dengan membacakan puisi kebangsaan.
“Terima kasih kepada seluruh kader PAN yang bekerja untuk malam ini, dari panitia, pengurus daerah, sampai kader-kader yang tampil di panggung,” ujar Eko Patrio.
Ia mengatakan konsep tersebut sengaja dibuat untuk memberi penghargaan kepada para tamu yang menjalankan peran penting dalam kehidupan sehari-hari. “Konsepnya sengaja kami buat begini karena malam itu bukan tentang partai, melainkan tentang orang-orang yang kami undang. Petani, nelayan, ojol, guru honorer, tenaga kesehatan, dan pelaku UMKM adalah pejuang ekonomi yang setiap hari menjaga dapur keluarganya masing-masing. Mereka pantas duduk di kursi kehormatan dan disambut dengan layak,” katanya.
Penampilan Lebah Begantong dan momen bersama Presiden
Salah satu penampilan yang paling banyak diperbincangkan datang dari Lebah Begantong, grup orkes Melayu asal Medan, Sumatera Utara. Mereka membawakan lagu dengan gaya berpantun sembari menyapa satu per satu tokoh yang hadir di lokasi acara.
Di penghujung penampilan, grup tersebut menyampaikan pantun yang meminta kesediaan Presiden Prabowo Subianto untuk berfoto bersama. Presiden kemudian berdiri dari kursinya dan memanggil tiga personel Lebah Begantong ke atas panggung.
Prabowo berfoto bersama ketiga personel itu dan memberikan hadiah kepada mereka. Video momen tersebut kemudian menyebar luas di media sosial setelah acara berakhir.


