Tragedi Pengunduran Diri 14 Menteri Ekonomi RI
Sejarah mencatat salah satu tragedi politik terbesar di Indonesia pada 20 Mei 1998, di mana 14 menteri ekonomi mengundurkan diri secara bersamaan. Peristiwa itu terjadi di tengah krisis moneter yang menghantam Indonesia dengan kejam.
Kondisi Krisis Ekonomi di Indonesia
Krisis pada saat itu melibatkan nilai tukar rupiah yang ambruk, lonjakan inflasi, perbankan yang hampir colaps, dan kehilangan kepercayaan publik terhadap pemerintah. Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri, Ginandjar Kartasasmita memimpin rapat darurat di Gedung Bappenas, Jakarta.
Rapat ini bukanlah pertemuan rutin, melainkan diskusi panjang yang dipicu oleh kondisi ekonomi yang memburuk dengan cepat. Ginandjar menyatakan dengan tegas bahwa Indonesia menghadapi potensi kolaps jika tidak segera diambil tindakan.
Keputusan Pengunduran Dir 14 Menteri
Dalam pernyataan bersama, 14 menteri ekonomi mengumumkan rencana pengunduran diri mereka sebagai protes terhadap kebijakan pemerintah. Mereka menyatakan bahwa pembentukan kabinet baru tidak akan menyelesaikan akar permasalahan yang ada.
Para menteri yang mengundurkan diri antara lain adalah Akbar Tandjung, Ginandjar Kartasasmita, Kuntoro Mangkusubroto, dan yang lainnya. Keputusan ini merupakan pukulan telak bagi Presiden Soeharto dan menandai keruntuhan kepercayaan elite ekonomi terhadap kepemimpinannya.
Keputusan massal ini membuat Soeharto terkejut dan terpukul, karena langkah para menteri tersebut diluar dugaan dan telah meruntuhkan legitimasinya. Dukungan dari para menteri dan elite politik kunci hilang, membuat Soeharto akhirnya memutuskan untuk mundur dari jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia pada 21 Mei 1998.


