Krisis Yerusalem: Aksi Israel Picu Respon Darurat Dunia Arab
Yordania bersiap menghadapi ancaman serius atas pengambilalihan situs suci Muslim di Yerusalem oleh Israel. Langkah drastis diambil dengan menggelar pertemuan darurat para menteri luar negeri dari negara-negara Arab dan Islam pada Rabu.
Pertemuan tersebut, melibatkan negara-negara seperti Liga Arab, Turki, Indonesia, Malaysia, dan Pakistan, dipicu oleh serbuan lebih dari 2.000 ekstremis sayap kanan Israel yang memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa, memicu potensi konflik agama global.
Ancaman Status Quo di Yerusalem
Pejabat Yordania menganggap serbuan ekstremis Israel sebagai pelanggaran serius dalam sejarah modern. Hal ini membuat Menteri Luar Negeri Yordania, Ayman Safadi menegaskan bahwa tindakan tersebut harus ditanggulangi dengan segala cara. Merusak status quo di Yerusalem berpotensi memicu konflik besar yang dapat meluas ke seluruh dunia Muslim.
Yordania, yang merasa rentan terhadap kampanye pembersihan etnis Israel di Tepi Barat, mengingatkan bahwa pemindahan paksa warga Palestina ke wilayah mereka adalah garis merah yang tidak boleh dilanggar. Di mana lebih dari separuh populasi Yordania saat ini adalah keturunan pengungsi Palestina.
Tindakan Provokatif Israel dan Kontroversi Militer AS
Selain krisis di Yerusalem, Israel juga melakukan tindakan provokatif dengan menolak memperbarui perjanjian air dengan Yordania. Langkah tersebut memotong pasokan air hingga separuhnya sebagai pembalasan atas kritik Yordania terhadap pembunuhan warga sipil di Gaza.
Di sisi lain, kehadiran militer AS di Yordania semakin meningkat setelah serangan udara Iran menewaskan tiga warga Amerika. Meski kehadiran militer Amerika dianggap sebagai jaminan keamanan, namun sejumlah tokoh terkemuka Yordania menuntut penarikan pasukan AS karena menimbulkan risiko politik, keamanan, dan ekonomi bagi negara tersebut.


