Perang AS-Iran Semakin Memanas, Infrastruktur Terkena Sasaran
Jakarta, CNBC Indonesia – Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memasuki babak yang lebih berbahaya. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari sepekan eskalasi perang, kedua negara mulai menyerang infrastruktur penting, memicu kekhawatiran perang meluas ke fasilitas sipil dan energi yang menopang kawasan Teluk.
Eskalasi Perang Melibatkan Serangan Infrastruktur
Militer AS pada Jumat (17/7/2026) melancarkan serangan terhadap sejumlah jembatan di Iran, sementara Teheran membalas dengan menyerang pembangkit listrik dan fasilitas desalinasi di Kuwait. Di saat yang sama, ketegangan di laut juga meningkat setelah kapal tanker kembali menjadi sasaran serangan dan jalur pelayaran utama energi dunia semakin terancam.
Situasi di Laut Merah juga semakin memburuk. Kelompok bersenjata menyita sebuah kapal di lepas pantai Yaman, memperbesar kekhawatiran terhadap keamanan salah satu jalur pelayaran minyak paling vital di dunia, yakni Bab el-Mandeb yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Respons Pasar Energi terhadap Perang AS-Iran
Pasar energi langsung merespons perkembangan terbaru tersebut. Harga minyak mentah Brent melonjak sekitar 3% pada Jumat dan berada di jalur kenaikan mingguan ketiga berturut-turut. Lonjakan harga itu juga meningkatkan tekanan politik terhadap Presiden AS Donald Trump menjelang pemilu Kongres pada November mendatang.
Trump sebelumnya telah mengancam akan meluncurkan serangan udara besar-besaran terhadap infrastruktur Iran. Ia juga tidak menutup kemungkinan melakukan operasi darat di wilayah pesisir maupun pulau-pulau Iran.
Sejumlah pejabat AS mengatakan operasi militer di wilayah selatan Iran sebagian dirancang untuk memberikan lebih banyak opsi militer kepada Trump.
Langkah tersebut berisiko memicu respons lebih keras dari Iran, baik melalui serangan terhadap infrastruktur vital negara-negara Teluk maupun melalui sekutunya di Yaman yang dapat mengganggu pasokan energi global lewat Laut Merah.
Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, memperingatkan Washington agar tidak terus meningkatkan eskalasi maupun mencoba merebut wilayah Iran. “Jika serangan Amerika Serikat terus berlanjut selama beberapa hari lagi, kami akan memasuki fase operasi ofensif berskala penuh,” kata Rezaei, seorang mantan komandan tertinggi Garda Revolusi Iran.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga menyampaikan keprihatinannya atas eskalasi terbaru.
Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan Guterres mengkhawatirkan peningkatan konflik, terutama karena kini telah menyasar fasilitas sipil. Dia prihatin terhadap eskalasi tersebut, khususnya “serangan terhadap infrastruktur sipil di Iran dan di seluruh kawasan,” kata juru bicaranya.


