Penelitian Palsu dan Penggunaan AI: Fenomena Terbaru di Dunia Akademik
Belakangan ini, muncul dugaan penelitian palsu yang menggunakan artificial intelligence (AI) yang tersebar di media sosial. Sebuah kelompok Warga Negara Indonesia (WNI) disebut terlibat dalam praktik meragukan ini, yang terungkap dalam ajang internasional di Denmark.
Kritik dari Dokter dan Peneliti Griffith University
Dalam mengomentari dugaan penelitian palsu ini, dokter dan peneliti dari Griffith University, Dicky Budiman, mengidentifikasi tiga masalah besar yang menjadi akar terjadinya fenomena ini.
Pertama-tama, Dicky menyoroti fenomena komersialisasi prestise akademik yang kini tengah merajalela. Banyak orang yang memandang prestise akademik sebagai status sosial semata, bukan lagi sebagai upaya dalam proses ilmiah.
Dicky menekankan bahwa penggunaan AI sebenarnya diperbolehkan secara etis untuk membantu berbagai aspek penelitian, seperti tata bahasa, analisis statistik, pemetaan literatur, perencanaan gagasan, dan visualisasi data. Namun, penggunaan AI menjadi bermasalah ketika digunakan untuk menciptakan data palsu, responden fiktif, analisis yang dipalsukan, dan penelitian yang tidak berdasar.
Lemahnya Literasi dan Celah dalam Sistem Akademik
Masalah kedua yang diungkap adalah lemahnya literasi metodologi penelitian di kalangan pelaku akademik. Banyak orang mampu menghasilkan karya yang terkesan ilmiah tanpa memahami landasan epistemologis, validitas, bias, dan etika penelitian.
Selain itu, Dicky juga menyebut bahwa kesalahan dalam sistem akademik global dan nasional memberikan celah bagi terjadinya praktik penelitian palsu dengan mudahnya lolos. Konferensi internasional seringkali terlalu longgar dalam proses registrasi dan review, sehingga penelitian palsu dapat lolos tanpa terdeteksi.
Dicky menekankan bahwa masalah ini bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga menjadi isu global dalam era perkembangan teknologi AI saat ini.


