Binance Cegah Penipuan Kripto dengan Teknologi AI
Bursa kripto terbesar di dunia, Binance, telah melaporkan bahwa sistem keamanan berbasis kecerdasan buatan (AI) berhasil mencegah kerugian pengguna lebih dari USD 10,5 miliar atau sekitar Rp 183 triliun pada awal 2025 hingga kuartal pertama 2026. Peretas juga semakin memanfaatkan teknologi yang sama untuk melakukan serangan dalam skala dan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Sistem Keamanan yang Sukses
Yahoo Finance melaporkan bahwa Binance telah berhasil mencegah 22,9 juta upaya penipuan dan phishing hanya dalam kuartal pertama 2026. Selain itu, bursa tersebut juga telah melindungi aset senilai USD 1,98 miliar atau sekitar Rp 34,50 triliun.
Munculnya pengungkapan ini seiring dengan kemajuan AI yang signifikan dalam menurunkan biaya dan kompleksitas penipuan yang terjadi dalam dunia kripto. Menurut riset internal Binance, biaya eksploitasi kontrak pintar sekarang hanya USD 1,22 per kontrak, menurun 22% dari bulan sebelumnya.
Ancaman yang Semakin Kompleks
Model AI canggih yang digunakan mencapai tingkat keberhasilan sebesar 72,2% dalam mengantisipasi skenario serangan. Binance juga mencatat bahwa penipuan terkait kripto telah mencapai angka USD 17 miliar atau sekitar Rp 296,2 triliun pada tahun 2025, meningkat 30% dari tahun sebelumnya.
Perusahaan tersebut juga menyatakan bahwa sebanyak 76% penipuan yang terjadi kini bersifat AI dan masuk dalam kategori tertinggi baik dari segi skala maupun tingkat keparahan. Para penyerang menggunakan berbagai metode seperti deepfake, kloning suara, bot phishing, dan skema peniruan identitas di platform perpesanan untuk mengeksploitasi kepercayaan pengguna.
Untuk mengatasi ancaman tersebut, Binance telah menerapkan lebih dari 24 inisiatif AI dan lebih dari 100 model pada akhir tahun 2025. Dengan sistem berbasis AI yang mendukung 57% kontrol penipuan, Binance berhasil mengurangi tingkat penipuan kartu sebesar 60-70% jika dibandingkan dengan standar industri.


