Kementerian Luar Negeri Rusia mengeluarkan peringatan keras terkait dugaan keterlibatan negara-negara Barat dalam serangan teroris terbesar yang terjadi di Mali. Serangan tersebut melibatkan sekitar 250 petarung dan menargetkan Bandara Internasional Modibo Keita serta pangkalan militer di sekitarnya. Kelompok Al-Qaeda regional, JNIM, bersama kelompok pemberontak separatist, FLA, mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Informasi mengenai jumlah korban jiwa belum dirilis secara resmi, namun setidaknya 16 orang dilaporkan terluka dalam serangan tersebut. Kementerian Luar Negeri Rusia, melalui Russia Today, menyampaikan kekhawatiran atas eskalasi yang terjadi di Mali dan mencurigai adanya campur tangan pihak asing dalam mendukung para pemberontak.
Terdapat dugaan bahwa militer Rusia, melalui unit “Africa Corps” yang dibentuk pada tahun 2023, ikut membantu menstabilkan situasi di Mali. Mereka menemukan bukti penggunaan tentara bayaran dan senjata dari luar Afrika dalam serangan tersebut.
Perkembangan terbaru menyebutkan bahwa ofensif tersebut mendapat dukungan dari tentara bayaran Ukraina dan Eropa yang menggunakan senjata buatan Barat. Hal ini berdasarkan laporan resmi dari Africa Corps yang juga menuturkan bahwa kekuatan teroris telah mengalami kerugian signifikan dalam serangan tersebut.
Dugaan keterlibatan Barat ini sejalan dengan pernyataan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov yang menuding Prancis berusaha menggulingkan pemerintahan nasionalis di wilayah Sahara-Sahel. Lavrov juga menyebut Prancis menggunakan metode kolonial dan memanfaatkan kelompok teroris serta militan Ukraina sebagai bentuk balas dendam.
Prancis sendiri telah mengakhiri misi kontra-terorisme di Mali pada tahun 2022 setelah pasukannya diusir oleh otoritas lokal. Meskipun tuduhan itu selalu dibantah oleh pihak Prancis, pemerintah Mali tetap menuduh Prancis mendukung kelompok teroris di wilayah tersebut.


