Pemerintah kembali menyoroti pekerjaan rumah besar di bidang kesehatan anak: imunisasi yang belum merata. Data terbaru Kementerian Kesehatan menunjukkan sekitar 1,45 juta anak di Indonesia tidak mendapatkan imunisasi lengkap sepanjang 2018 hingga 2022. Angka itu menjadi alarm serius, terlebih dari total 17 juta anak usia 1–3 tahun, lebih dari 2,8 juta di antaranya juga belum menerima imunisasi lengkap pada periode 2021–2023.
Masalahnya Bukan Sekadar Akses
Wakil Menteri Kesehatan Dante menilai persoalan imunisasi tidak lagi bisa dibaca hanya sebagai urusan ketersediaan layanan. Secara akses, hambatan yang dulu kerap dikeluhkan sudah banyak teratasi. Namun, nyatanya masih ada lebih dari satu juta anak yang belum divaksinasi. Di sejumlah daerah, imunisasi bahkan masih dipandang tabu dan dianggap berbahaya bagi anak, sehingga keengganan keluarga ikut memperlebar kesenjangan cakupan vaksin.
Melawan Hoaks dengan Edukasi
Untuk menjawab tantangan itu, Dante menggandeng para ahli, influencer, media, hingga organisasi internasional seperti United Nations Development Programme (UNDP). Kolaborasi ini diarahkan untuk membantah hoaks yang terus beredar di masyarakat seputar imunisasi. Dante menegaskan seluruh vaksin yang disediakan telah melewati rangkaian uji klinis dan terbukti aman digunakan. Menurutnya, tanpa edukasi yang konsisten, informasi keliru akan terus menghambat perlindungan anak dari penyakit yang sebenarnya bisa dicegah.
Imunisasi Tak Boleh Dipandang Sesaat
Pekan Imunisasi 2026 menjadi momentum untuk mengingatkan bahwa vaksinasi bukan hanya kebutuhan pada masa balita. Perlindungan kesehatan perlu dipahami sepanjang usia, dengan pesan yang sama: pencegahan jauh lebih murah dan lebih aman dibanding menghadapi risiko penyakit di kemudian hari. Karena itu, pemerintah berharap kampanye yang lebih intensif dapat mengubah cara pandang masyarakat, terutama di wilayah yang masih ragu terhadap imunisasi.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.


