More

    Ikan Sapu-Sapu: Kandungan Protein Tinggi dan Isu Logam Berat

    Ikan sapu-sapu kerap dianggap sepele, padahal di balik kandungan proteinnya yang cukup tinggi, ada risiko kesehatan yang tidak bisa diabaikan. Ahli kesehatan lingkungan, dr. Dicky Budiman, M.Sc.PH., Ph.D., menegaskan bahwa meski ikan ini tergolong rendah lemak, pertimbangan soal keamanan konsumsi jauh lebih penting dibanding manfaat gizinya.

    Protein Ada, Tetapi Risiko Juga Besar

    Secara nutrisi, ikan sapu-sapu memang memiliki protein tinggi. Namun, menurut dr. Dicky, fakta tersebut tidak otomatis membuatnya layak dijadikan pilihan pangan. Ia menilai, bahaya yang menyertai konsumsi ikan ini justru lebih dominan, terutama bila asal perairannya tidak jelas atau berasal dari lingkungan yang tercemar.

    Dalam berbagai temuan ilmiah, ikan sapu-sapu diketahui dapat mengandung logam berat seperti merkuri, timbal, dan kadmium dalam kadar yang signifikan. Kondisi ini semakin mengkhawatirkan jika ikan ditangkap dari sungai perkotaan atau wilayah industri, karena perairan seperti itu cenderung menyimpan lebih banyak polutan.

    Berpotensi Picu Gangguan Kesehatan Serius

    Dampak konsumsi ikan sapu-sapu yang terpapar logam berat tidak bisa dianggap ringan. Paparan tersebut dapat memicu gangguan pada sistem saraf, ginjal, dan hematologi atau sistem darah. Dalam jangka panjang, risikonya bahkan disebut dapat meningkatkan peluang terjadinya kanker.

    Tak hanya itu, ikan sapu-sapu juga rentan membawa mikroorganisme patogen seperti virus, jamur, parasit, dan bakteri, termasuk E. coli. Jika masuk ke tubuh manusia, kontaminan ini dapat memicu infeksi saluran pencernaan dengan gejala yang bisa cukup berat.

    Penanda Lingkungan yang Tercemar

    Kehadiran ikan sapu-sapu di suatu perairan juga sering dipandang sebagai sinyal buruk bagi kualitas air. Karena hidup di dasar dan mengonsumsi sedimen, ikan ini mudah mengakumulasi logam berat serta menyerap polutan organik persisten. Artinya, semakin tercemar lingkungan tempat hidupnya, semakin besar pula potensi risikonya bagi manusia yang mengonsumsinya.

    Atas dasar itu, dr. Dicky menyarankan masyarakat untuk tidak menjadikan ikan sapu-sapu sebagai sumber protein. Pilihan yang lebih aman dan sehat tetap harus diutamakan agar risiko kesehatan akibat kontaminasi tidak ikut terbawa ke meja makan.

    Sumber : Liputan6.com

    Source link

    Berita Terbaru

    Related articles