Bitcoin kembali terseret gelombang kehati-hatian pasar setelah kabar gagalnya pembicaraan Amerika Serikat dan Iran memicu tekanan baru pada aset berisiko. Setelah sempat bertahan di atas level USD 72.000, harga Bitcoin akhirnya terkoreksi lagi ketika investor mulai menghitung ulang dampak ketegangan geopolitik yang belum mereda. Dalam situasi seperti ini, pasar kripto terlihat sangat peka terhadap kabar eksternal, terutama yang datang dari kawasan Timur Tengah dan berpotensi mengubah arah perdagangan dalam waktu singkat.
Negosiasi 21 Jam Berakhir Tanpa Kesepakatan
JD Vance mengatakan pembicaraan antara AS dan Iran yang berlangsung selama 21 jam di Pakistan tidak menghasilkan titik temu. Menurutnya, Washington membutuhkan komitmen yang jelas dari Iran, khususnya terkait larangan pengembangan senjata nuklir. Kegagalan diplomasi ini segera menambah kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan eskalasi yang lebih luas di Timur Tengah, wilayah yang kerap memicu gejolak pada aset-aset berisiko.
Meski belum bisa dipastikan bahwa penurunan Bitcoin sepenuhnya dipicu oleh kabar tersebut, suasana pasar yang sudah rapuh membuat sentimen negatif mudah menjalar. Ketika risiko politik meningkat, sebagian investor cenderung memilih sikap defensif dan mengurangi eksposur terhadap aset yang pergerakannya sangat liar. Akibatnya, tekanan jual pada Bitcoin menjadi lebih mudah muncul, bahkan saat pemicunya datang dari luar pasar kripto itu sendiri.
Derivatif Kripto Ikut Tertekan
Gejolak tidak hanya terasa di pasar spot. Pada pasar derivatif, penurunan harga Bitcoin memicu likuidasi posisi short senilai sekitar USD 280 juta pada kontrak futures Bitcoin. Di saat yang sama, open interest justru naik dari USD 84,6 miliar menjadi USD 86,6 miliar dalam 24 jam. Kombinasi ini menunjukkan bahwa aktivitas leverage masih tinggi di tengah volatilitas yang membesar.
Kondisi seperti ini biasanya membuat pergerakan harga semakin sensitif. Saat posisi terbuka bertambah di tengah pasar yang gelisah, setiap perubahan sentimen bisa memicu reaksi berantai yang lebih cepat dari perkiraan. Karena itu, Bitcoin kini berada dalam fase yang mudah berbalik arah hanya karena satu kabar politik atau perubahan nada dari pelaku pasar.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.


