China dan Korea Utara kembali menunjukkan kedekatan politik yang makin terbuka di tengah memanasnya persaingan global. Dalam pertemuan antara Menteri Luar Negeri China Wang Yi dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, kedua pihak menegaskan dukungan terhadap kerja sama lintas negara yang mereka kaitkan dengan gagasan “dunia multipolar”. Di balik pilihan kata yang terdengar diplomatis, arah pesannya cukup jelas: Beijing dan Pyongyang ingin memperlihatkan bahwa mereka tidak berdiri di bawah bayang-bayang kekuatan Barat.
Pyongyang Tegaskan Dukungan untuk Beijing
Kim Jong Un menyampaikan dukungan terhadap upaya China mempererat hubungan bilateral dan membangun tatanan dunia yang lebih seimbang menurut versi Beijing. Korea Utara juga kembali menegaskan dukungan penuh atas integritas teritorial China, termasuk prinsip satu China yang menempatkan Taiwan sebagai bagian tak terpisahkan dari wilayah China. Sikap ini menandai bahwa kedekatan kedua negara bukan sekadar simbol persahabatan lama, melainkan sudah menyentuh isu-isu paling sensitif bagi Beijing.
Wang Yi menyebut hubungan China dan Korea Utara telah memasuki “fase baru” setelah pertemuan Kim dan Xi Jinping tahun lalu. Ia mengatakan China akan memperluas kerja sama praktis dan meningkatkan pertukaran strategis di tengah situasi geopolitik yang semakin rumit. Dengan pernyataan itu, Beijing tampak ingin menegaskan bahwa Pyongyang tetap punya nilai penting, bukan hanya sebagai tetangga dekat, tetapi juga sebagai mitra dalam kalkulasi politik yang lebih luas.
Kim Jong Un dan Upaya Keluar dari Isolasi
Bagi Kim Jong Un, merapat ke China juga menjadi cara untuk mempersempit ruang isolasi internasional yang selama ini menekan Korea Utara. Dalam beberapa tahun terakhir, Pyongyang memperluas hubungan dengan negara-negara yang bersitegang dengan Amerika Serikat, termasuk Rusia. Kedekatan dengan China kini memperkuat pesan bahwa Korea Utara ingin berdiri dalam blok yang menolak dominasi Washington.
Strategi itu makin terlihat sejak dialog dengan Amerika Serikat dan Korea Selatan mandek pada 2019. Sejak saat itu, Korea Utara memilih jalur keras dan menolak tawaran denuklirisasi yang dinilai tidak menguntungkan. Di saat yang sama, Pyongyang tetap aktif membangun jaringan diplomatik baru untuk menjaga pengaruhnya di tengah tekanan Barat.
Jalur Transportasi Dibuka Lagi, Sinyal Hubungan Membaik
Di luar pernyataan politik, ada juga tanda pemulihan hubungan yang sifatnya lebih konkret. Bulan lalu, layanan penerbangan dan kereta penumpang China-Korea Utara kembali dibuka setelah dihentikan sejak awal pandemi COVID-19. Pembukaan kembali jalur transportasi ini menunjukkan bahwa komunikasi dan pertukaran antarnegara mulai bergerak lagi setelah lama tertahan.
Kunjungan Wang Yi ke Korea Utara dipandang sebagai bagian dari dorongan untuk memperlancar kerja sama dan memperkuat koordinasi ke depan. Meski tidak diucapkan secara langsung, langkah ini juga dibaca sejalan dengan persiapan pertemuan antara Donald Trump dan Xi Jinping yang dijadwalkan ulang pada Mei. Dari situ, terbuka pula kemungkinan munculnya jalur diplomasi baru terkait Korea Utara, yang sejak 2019 menghentikan dialog dengan Washington.
Dengan dukungan politik yang makin tegas, jalur transportasi yang kembali dibuka, serta koordinasi strategis yang terlihat kian rapat, hubungan China dan Korea Utara kini bergerak ke arah yang lebih terstruktur. Bagi Asia Timur, kedekatan ini bukan sekadar sinyal persahabatan lama, melainkan tanda bahwa Beijing dan Pyongyang sedang menyusun ulang posisi mereka di tengah persaingan yang semakin tajam dengan Amerika Serikat.


