Debat Michael Saylor vs Peter Schiff: Investor Bitcoin Waspada
Perdebatan lama soal Bitcoin kembali mengemuka setelah Peter Schiff menyoroti performa aset kripto itu dalam sebuah unggahan terbaru. Kali ini, Schiff membandingkan hasil investasi Bitcoin dengan sejumlah instrumen besar lain dan menyimpulkan bahwa dalam lima tahun terakhir, Bitcoin tertinggal jauh. Menurut analisanya, harga Bitcoin hanya naik 12%, sementara NASDAQ melonjak 57,4%, S&P 500 menguat 59,4%, emas naik 163%, dan perak bahkan menggebrak dengan kenaikan 181%.
Perbandingan tersebut kembali memicu pertanyaan yang kerap muncul di kalangan investor: jika kinerja jangka panjang Bitcoin kalah dari aset tradisional, apa alasan banyak orang tetap memilih untuk “HODL”?
Schiff menekan, Saylor membalas dengan kerangka waktu berbeda
Michael Saylor merespons dengan pendekatan yang berbeda. Ia menilai Bitcoin tidak bisa dibaca hanya dari satu potongan waktu tertentu, karena hasil investasi sangat bergantung pada periode yang dipakai sebagai acuan. Dalam tanggapannya, Saylor menampilkan data yang menunjukkan bahwa sejak Agustus 2020, Bitcoin justru mencatat imbal hasil tahunan sebesar 36%.
Angka itu, menurut Saylor, berada jauh di atas emas yang berada di level 16%, Nasdaq-100 sebesar 15%, dan S&P 500 sebesar 14%. Dengan kata lain, perdebatan ini bukan sekadar soal siapa yang lebih unggul, tetapi juga soal kapan titik awal pengukuran dilakukan.
Aset konvensional ikut terseret dalam perbandingan
Saylor juga menyoroti bahwa tidak semua aset klasik tampil kuat dalam periode yang sama. Sektor properti melalui VNQ hanya mencatat imbal hasil 5%, sedangkan obligasi melalui BND justru membukukan hasil negatif 1%. Data itu memperlihatkan bahwa di tengah tekanan pasar yang berubah-ubah, Bitcoin masih bisa tampil sebagai aset yang lebih agresif dalam horizon tertentu.
Meski demikian, perbedaan pandangan antara Schiff dan Saylor menunjukkan satu hal yang jelas: Bitcoin tetap menjadi aset yang memecah opini. Bagi sebagian investor, angka-angka jangka panjang ala Schiff menjadi alarm kewaspadaan. Bagi yang lain, data sejak 2020 seperti yang ditunjukkan Saylor justru menjadi alasan untuk tetap bertahan pada aset digital tersebut.
Source link


