Harga Bitcoin kembali limbung pada Kamis pagi setelah pasar dikejutkan oleh pernyataan terbaru Presiden Amerika Serikat Donald Trump soal konflik dengan Iran. Aset kripto terbesar di dunia itu sempat tergelincir di bawah level USD 67.000 dan menyentuh sekitar USD 66.770, menunjukkan betapa cepatnya investor bereaksi terhadap gejolak geopolitik yang meningkat.
Pasar Membaca Pernyataan Trump sebagai Sinyal Risiko
Menurut Cryptopotato, Trump menyebut Amerika Serikat berada di jalur untuk menuntaskan tujuan militernya dalam waktu singkat. Ia juga melontarkan ancaman bahwa serangan keras terhadap Iran bisa terjadi dalam dua hingga tiga minggu ke depan. Di sisi lain, Trump menegaskan AS hampir tidak lagi mengimpor minyak melalui Selat Hormuz dan tidak akan bergantung pada jalur itu di masa mendatang.
Pernyataan tersebut tidak ditangkap pasar sebagai tanda mereda. Sebaliknya, investor menilainya sebagai sinyal bahwa tensi konflik masih berpotensi meningkat. Dalam situasi seperti ini, aset berisiko seperti Bitcoin biasanya menjadi sasaran tekanan jual karena pelaku pasar cenderung mencari posisi yang lebih aman.
Minyak Naik, Kekhawatiran Pasar Bertambah
Analis Kobeissi Letter mencatat bahwa meski Trump tidak secara terbuka menyampaikan pesan de-eskalasi, pasar justru bergerak dengan asumsi perang dengan Iran masih akan berlanjut. Dampaknya terasa bukan hanya di kripto, tetapi juga di pasar lain. Saham berjangka ikut tertekan, sementara harga minyak melesat di atas USD 100 per barel.
Kenaikan harga minyak menjadi perhatian besar karena dapat menambah tekanan ekonomi, terutama bagi negara-negara yang sangat bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah. Dalam kondisi seperti ini, investor biasanya semakin sensitif terhadap setiap perkembangan politik dan militer yang berkaitan dengan jalur distribusi energi global, termasuk Selat Hormuz yang selama ini dianggap krusial bagi perdagangan minyak dunia.
Bitcoin Kembali Jadi Aset yang Paling Cepat Bereaksi
Pergerakan Bitcoin kali ini memperlihatkan pola yang berulang: ketika ketidakpastian global naik, kripto kerap menjadi salah satu aset pertama yang dijual. Meski pasar sempat mencoba bertahan, tekanan dari isu Iran dan lonjakan minyak membuat sentimen sulit pulih dalam waktu singkat. Kondisi tersebut menegaskan bahwa Bitcoin masih sangat peka terhadap perubahan arah kebijakan dan risiko geopolitik internasional.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.


