Memberi label “anak nakal” terdengar sepele, tetapi dampaknya bisa menempel lama pada cara anak memandang diri sendiri. Dalam pengasuhan, kata-kata yang diucapkan orangtua bukan hanya teguran sesaat, melainkan juga bisa membentuk pola pikir dan rasa aman anak. Karena itu, pendekatan yang lebih tepat bukan sekadar menyoroti kesalahan, melainkan membangun kedekatan, aturan yang jelas, dan komunikasi yang sehat.
Cinta tanpa syarat jadi dasar pengasuhan
Menurut ahli parenting Gemah, orangtua perlu menunjukkan kasih sayang tanpa syarat kepada anak dalam kondisi apa pun. Bentuknya tidak selalu lewat ucapan, tetapi juga melalui pelukan dan kontak fisik yang membuat anak merasa diterima dan nyaman. Saat anak merasa dicintai, ia cenderung lebih terbuka menerima arahan dibanding terus-menerus disudutkan dengan cap negatif.
Komunikasi yang mendengarkan, bukan menghakimi
Gemah juga menekankan pentingnya komunikasi dua arah dalam mendidik anak. Orangtua disarankan lebih banyak mendengar, memberi ruang bagi anak untuk bicara, dan menghindari respons yang langsung menyalahkan. Cara ini membantu anak memahami kesalahannya tanpa merasa dirinya adalah masalah. Dengan begitu, teguran menjadi sarana belajar, bukan sumber rasa malu yang menetap.
Disiplin tetap perlu, tapi tanpa label merendahkan
Disiplin tetap menjadi bagian penting dalam parenting. Anak perlu tahu aturan yang harus dipatuhi dan konsekuensi yang akan diterima jika melanggar kesepakatan. Namun, penghargaan atas perilaku baik juga tak kalah penting. Pujian, kata-kata penyemangat, dan apresiasi sederhana bisa memperkuat kebiasaan positif. Dalam pola asuh seperti ini, anak belajar bertanggung jawab tanpa harus tumbuh dengan identitas sebagai “anak nakal”.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.


