Upie Guava, seorang sutradara Indonesia, menghadirkan film Pelangi di Mars sebagai alternatif di tengah dominasi film drama, horor, dan romansa di industri perfilman Tanah Air. Menurutnya, film ini tidak sekadar fiksi ilmiah biasa, melainkan lahir dari kekhawatiran yang lebih mendalam terhadap kehilangan mimpi besar di kalangan anak-anak Indonesia.
Upie mengungkap bagaimana generasinya dulu tumbuh dengan banyak cerita yang mendorong anak-anak untuk bermimpi besar. Namun, saat ini banyak anak di Indonesia sudah tidak sekuat dulu dalam bermimpi. Mereka melihat menjadi dewasa sebagai hal yang tidak menyenangkan, yang berujung pada lemahnya dorongan untuk memiliki cita-cita besar.
Dari pandangan tersebut, Upie mulai mempertimbangkan pentingnya literasi untuk kembali menyalaakan imajinasi anak-anak. Baginya, bangsa besar tidak hanya lahir begitu saja, tetapi dibentuk dari mimpi besar generasi muda. Oleh karena itu, ia merasa bahwa Indonesia perlu kembali memiliki cerita yang bisa memotivasi anak-anak bermimpi terhadap masa depan, termasuk melalui genre sci-fi, fantasi, dan kepahlawanan.
Pelangi di Mars hadir sebagai upaya untuk memberikan Indonesia tokoh sentral dalam narasi futuristik, bukan hanya menjadi penonton dalam kisah besar yang didominasi oleh negara lain. Upie ingin anak-anak Indonesia memiliki tokoh dari dalam negeri yang bisa menjadi panutan dan bangga.
Selain itu, Upie tidak hanya fokus pada cerita film itu sendiri. Ia juga menggunakan pendekatan produksi yang berbeda dengan memanfaatkan tools digital, game engine, virtual production, dan ekosistem Apple untuk menciptakan ruang kreatif yang lebih luas. Dengan demikian, Upie berusaha menciptakan film yang tidak hanya menarik tetapi juga memberikan dampak positif bagi anak-anak Indonesia dalam bermimpi dan memiliki cita-cita besar.


