More

    Said Abdullah Tanggapi Pelebaran Defisit APBN dan Lonjakan Harga Minyak

    Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, telah menyampaikan berbagai skenario terkait Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) jika terjadi konflik global yang berpotensi meningkatkan harga minyak dunia. Pemerintah telah menyiapkan simulasi berdasarkan berbagai kemungkinan durasi konflik dan dampaknya terhadap Indeks Harga Minyak mentah Indonesia (ICP), nilai tukar rupiah, serta biaya Surat Berharga Negara (SBN). Airlangga mengungkapkan bahwa pemerintah telah memperhatikan pola lonjakan harga minyak selama krisis global sebelumnya, seperti saat harga minyak mencapai USD 139 per barel pada 2008 dan juga selama konflik Rusia-Ukraina yang membuat harga minyak naik hingga sekitar USD 110 per barel.

    Menurut Airlangga, realisasi harga ICP pada awal tahun masih berada di bawah asumsi APBN. Pada bulan Januari, harga mencapai sekitar USD 64,41 per barel dan pada bulan Februari sekitar USD 68,79 per barel, keduanya lebih rendah dari asumsi APBN sebesar USD 70 per barel. Namun, jika konflik global berlangsung lebih lama dan harga minyak terus meningkat, pemerintah memproyeksikan beberapa kemungkinan terhadap defisit APBN.

    Salah satu skenario yang diproyeksikan adalah jika harga ICP naik menjadi sekitar USD 86 per barel dengan nilai tukar rupiah sekitar Rp 17.000 per dolar AS dan pertumbuhan ekonomi tetap stabil di level 5,3 persen, maka imbal hasil SBN diperkirakan sekitar 6,8 persen. Dalam situasi tersebut, defisit APBN diperkirakan mencapai sekitar 3,18 persen dari produk domestik bruto (PDB).

    Source link

    Berita Terbaru

    Related articles