Kresek Kuning Zhang Jingyi Disangka Tas Balenciaga Rp26 Juta, Ternyata Cuma Properti Film
Jakarta — Sebuah kantong plastik kuning yang dibawa aktris Tiongkok Zhang Jingyi mendadak menguasai percakapan di media sosial. Banyak warganet terlanjur mengira benda sederhana itu adalah tas nyentrik Balenciaga dengan harga mencapai Rp26 juta. Dugaan tersebut cepat menyebar, lalu berubah menjadi bahan komentar, meme, hingga video parodi yang menertawakan betapa absurdnya dunia fesyen kelas atas.
Belakangan, kabar itu diluruskan. Kantong plastik kuning yang terlihat dalam penampilan Zhang Jingyi ternyata bukan produk mewah Balenciaga, melainkan properti untuk film terbarunya yang berjudul The One. Artinya, benda yang sempat dianggap simbol gaya hidup mahal itu sebenarnya hanya bagian dari kebutuhan produksi, bukan aksesori mode bernilai fantastis.
Detail Kecil yang Langsung Meledak di Internet
Kasus ini menunjukkan bagaimana satu detail visual yang tampak biasa bisa berubah menjadi spekulasi besar dalam hitungan jam. Bentuk kantong itu yang sangat sederhana justru memancing asosiasi dengan Balenciaga, merek yang memang terkenal sering menghadirkan desain tak lazim. Dari situ, tafsir publik berkembang liar: ada yang yakin itu tas mahal, ada pula yang langsung menjadikannya bahan olok-olok.
Fenomena seperti ini bukan hal baru di era media sosial. Satu foto atau video singkat bisa memunculkan narasi yang jauh melampaui fakta aslinya. Dalam kasus Zhang Jingyi, kesan “plastik biasa” justru menjadi pemicu utama kenapa benda tersebut terlihat mencolok dan cepat dikaitkan dengan kemewahan yang tidak masuk akal.
Balenciaga, Merek yang Sering Hidup dari Kontroversi
Meski kasus kali ini bukan tentang produk asli mereka, nama Balenciaga memang sudah lama identik dengan desain yang memancing perdebatan. Salah satu yang paling sering dibicarakan adalah trash pouch, tas yang tampil seperti kantong sampah dan dibanderol dengan harga tinggi. Bagi sebagian orang, inilah bukti bahwa fesyen bisa menjadi ruang eksperimen. Bagi yang lain, itu sekadar contoh bagaimana barang aneh bisa dikemas sebagai kemewahan.
Balenciaga sendiri bukan pemain baru di industri mode. Rumah mode ini didirikan oleh Cristóbal Balenciaga pada 1917 di San Sebastián, lalu berkembang pesat di Paris pada 1937. Sejak awal, label ini dikenal lewat desain yang berani, mewah, dan kerap menonjolkan siluet oversized yang berbeda dari pakem umum.
Perjalanan Panjang dari Vakum ke Grup Mewah
Perjalanan Balenciaga sempat terhenti pada 1972 setelah sang pendiri pensiun. Namun merek itu kembali diluncurkan pada 1986 dengan arah kepemilikan dan konsep yang baru. Sejak 2001, Balenciaga menjadi bagian dari grup mewah Kering dan terus mempertahankan reputasi sebagai label yang gemar bermain di batas antara mode, seni, dan keanehan.
Selain tas, deretan produk Balenciaga juga kerap memancing reaksi publik. Ada gelang berbentuk lakban bening, rok handuk, jaket compang-camping, hingga anting dari tutup botol. Koleksi-koleksi semacam itu membuat nama Balenciaga terus muncul dalam perbincangan, baik sebagai simbol keberanian desain maupun sebagai bahan sindiran.
Kasus Zhang Jingyi akhirnya memperlihatkan satu hal yang cukup jelas: di era serba viral, benda paling biasa pun bisa tampak seperti barang mewah jika dipotret pada momen yang tepat. Dan ketika citra Balenciaga sudah terlanjur lekat di kepala publik, sebuah kresek kuning saja bisa cukup untuk memantik kegaduhan besar.
Source link


