More

    Gen Z Lebih Memilih Antre Takjil daripada Scroll Sosmed

    Di tengah derasnya arus konten digital, ada satu kebiasaan Ramadan yang justru makin dicari anak muda: berburu takjil. Bagi Gen Z dan milenial, aktivitas ini bukan sekadar cara menunggu azan magrib, melainkan bagian dari pengalaman Ramadan yang terasa lebih hidup dibandingkan hanya duduk sambil scroll media sosial.

    Takjil Jadi Tradisi, Bukan Sekadar Jajanan

    Takjil di Indonesia kini sudah jauh melampaui fungsinya sebagai makanan pembuka puasa. Di banyak kota, aktivitas mencari takjil berubah menjadi agenda ngabuburit yang paling dinanti. Berdasarkan data riset, sekitar 41 persen anak muda memandang berburu takjil bukan hanya sebagai bentuk self-reward, tetapi sebagai tradisi yang tidak tergantikan selama Ramadan.

    Angka itu menunjukkan bahwa takjil punya nilai sosial yang kuat. Bukan cuma soal rasa atau harga, melainkan soal kebiasaan yang membentuk suasana Ramadan itu sendiri. Dari pasar dadakan hingga lapak kaki lima, perburuan takjil menjadi momen yang membuat jalanan ramai dan interaksi antarpembeli ikut hidup.

    Lebih Ramai dari Sekadar Aktivitas Digital

    Fenomena ini juga memperlihatkan perubahan cara anak muda mengisi waktu jelang berbuka. Jika dulu media sosial sering menjadi pelarian utama saat menunggu waktu magrib, kini berburu takjil justru mengambil alih perhatian. Lebih dari separuh responden dalam riset tersebut mengaku membeli takjil hampir setiap hari selama bulan suci.

    Antusiasme itu tampak merata. Keterlibatan laki-laki dan perempuan dalam fenomena ini disebut seimbang, menandakan bahwa tradisi berburu takjil bukan lagi milik satu kelompok tertentu. Hanya sebagian kecil responden yang mengaku jarang atau tidak pernah membeli takjil.

    Ngabuburit yang Punya Nilai Sosial

    Di balik ramainya pemburu takjil, ada satu hal yang membuat tradisi ini terus bertahan: rasa kebersamaan. Takjil bukan cuma soal mengisi perut sebelum berbuka, tetapi juga bagian dari rutinitas sosial yang mempertemukan orang-orang dalam satu suasana yang sama. Karena itu, bagi Gen Z dan milenial, antre takjil terasa lebih menarik daripada sekadar tenggelam dalam layar ponsel.

    Fenomena ini memperlihatkan bahwa Ramadan masih punya daya tarik kuat di ruang-ruang sederhana. Saat banyak kebiasaan bergeser ke dunia digital, takjil tetap mempertahankan tempatnya sebagai tradisi yang dicari, dinikmati, dan diulang hampir setiap hari.

    Berita Terbaru

    Related articles