More

    Trump Kena Tampar Pejabat, Tidak Ada Bukti Iran Serang AS

    Pejabat pemerintahan Presiden Donald Trump mengakui kepada staf Kongres bahwa tidak ada intelijen yang menunjukkan Iran berencana menyerang lebih dulu pasukan Amerika Serikat (AS), seperti yang diungkapkan dua sumber yang mengetahui jalannya pengarahan tersebut. Pengakuan ini datang setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran, yang menyebabkan kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan merusak kapal-kapal perang Iran serta menyerang lebih dari 1.000 target di berbagai wilayah. Operasi militer tersebut dipicu oleh keputusan Trump yang sebagian didasarkan pada indikasi bahwa Iran mungkin akan menyerang pasukan AS di Timur Tengah.

    Pejabat Pentagon memberikan pengarahan kepada staf Demokrat dan Republik dari komite keamanan nasional di Senat dan DPR mengenai operasi militer AS di Iran. Meskipun ada ancaman dari rudal balistik Iran dan pasukan proksi Teheran, tidak ada intelijen yang menunjukkan bahwa Iran berencana menyerang pasukan AS terlebih dahulu. Trump mengklaim bahwa operasi militer bertujuan untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir, membatasi program rudalnya, dan menghilangkan ancaman terhadap Amerika Serikat dan sekutunya. Namun, Partai Demokrat menuduh Trump melancarkan “perang pilihan” dan menyatakan keraguan tentang alasan pemerintah meninggalkan jalur diplomasi yang masih memiliki peluang.

    Meski Trump telah berulang kali menyatakan bahwa Iran berada di jalur untuk menyerang AS dengan rudal balistik, klaim tersebut tidak didukung oleh laporan intelijen AS dan dianggap berlebihan oleh beberapa sumber. Korban pertama dari AS dalam konflik ini telah diumumkan, dengan tiga personel militer AS tewas dan lima lainnya mengalami luka serius. Serangan militer AS terhadap Iran melibatkan pesawat dan kapal perang AS yang telah menghantam lebih dari 1.000 target sejak Trump memerintahkan operasi besar-besaran. Meskipun demikian, pertanyaan mengenai dasar pembenaran perang semakin meningkat, terutama setelah konflik ini menimbulkan korban jiwa dari pihak Amerika Serikat.

    Source link

    Berita Terbaru

    Related articles