Seorang politikus PDIP dan Anggota Komisi I DPR, TB Hasanuddin, menyatakan perlunya kajian mendalam terkait niat Presiden Prabowo Subianto untuk menjadi fasilitator konflik antara Israel, Amerika Serikat (AS), dan Iran. Menurutnya, walaupun niat Presiden sesuai dengan prinsip bebas aktif dalam menjaga perdamaian dunia, namun dibutuhkan kalkulasi yang matang. Menjadi fasilitator akan menghadapi banyak tantangan, terutama dengan diplomasi Indonesia yang cenderung mendukung Amerika dan Israel.
TB Hasanuddin menekankan pentingnya komitmen serius dalam peran sebagai fasilitator konflik. Dibutuhkan waktu, tenaga, dan anggaran yang besar untuk menjalankan peran tersebut. Kepentingan nasional dan kalkulasi strategis Indonesia juga harus menjadi pertimbangan utama sebelum terlibat dalam konflik internasional.
Menurut TB Hasanuddin, Indonesia seharusnya lebih fokus dalam konflik di kawasan Asia Tenggara, seperti konflik perbatasan antara Thailand dan Kamboja. Sebagai anggota ASEAN, Indonesia seharusnya terlibat dalam memediasi konflik di kawasan sendiri yang secara langsung berkaitan dengan kepentingan nasional.


