Wacana Indonesia masuk ke dalam keanggotaan Dewan Perdamaian atau Board of Peace yang diinisiasi Presiden AS Donald Trump belum sepenuhnya mendapat sambutan positif dari publik. Hasil survei terbaru Median menunjukkan, lebih dari separuh responden justru menolak keterlibatan Indonesia dalam forum tersebut. Temuan ini memperlihatkan bahwa isu yang berkaitan dengan Palestina, Gaza, dan peran Indonesia di panggung internasional masih dibaca dengan sangat kritis oleh masyarakat.
Mayoritas Responden Mengenal Board of Peace
Median merilis hasil penelitian yang dilakukan melalui kuesioner kepada akun media sosial di seluruh Indonesia dengan target 1.200 sampel. Survei itu digelar pada 10–14 Februari 2026. Dari hasil pengumpulan data, 78,8 persen responden mengaku mengetahui keberadaan Board of Peace. Rinciannya, 31,2 persen mengetahui secara detail, sementara 47,6 persen hanya pernah mendengar namanya.
Direktur Eksekutif Median, Rico Marbun, mengatakan ada lima asosiasi yang muncul spontan dari kelompok responden yang mengaku paham soal forum tersebut. Lima hal itu adalah anggapan bahwa Board of Peace merupakan tandingan PBB, forum untuk menengahi konflik Palestina-Israel, inisiatif buatan Amerika Serikat dan Donald Trump, taktik Amerika Serikat dan Israel untuk memengaruhi Gaza, serta forum perdamaian dunia.
Penolakan Lebih Besar dari Dukungan
Meski cukup banyak yang mengetahui topiknya, sikap publik justru cenderung menolak. Sebanyak 50,4 persen responden tidak setuju Indonesia bergabung ke dalam Board of Peace. Sementara itu, 34,8 persen menyatakan setuju. Angka ini menunjukkan bahwa dukungan terhadap keikutsertaan Indonesia belum mampu melampaui keraguan publik yang masih kuat.
Di antara mereka yang setuju, alasan yang paling sering muncul adalah dukungan terhadap kemerdekaan Palestina, upaya memperkuat posisi Indonesia di dunia internasional, dan harapan terhadap perdamaian global. Namun, dukungan itu tampaknya belum cukup untuk meredam skeptisisme yang berkembang di kalangan responden lain.
Alasan Penolakan: Gaza, Biaya, dan Palestina yang Belum Merdeka
Responden yang menolak keanggotaan Indonesia memiliki keberatan yang cukup tegas. Mereka menilai Board of Peace bisa menjadi alat Amerika Serikat dan Israel untuk menguasai Gaza. Selain itu, ada pula anggapan bahwa keterlibatan Indonesia di forum tersebut hanya akan menjadi pemborosan uang. Faktor lain yang memicu penolakan adalah kenyataan bahwa hingga kini Palestina belum merdeka, sehingga keikutsertaan Indonesia dinilai belum menjawab persoalan pokok.
Hasil survei ini menempatkan pemerintah pada posisi yang tidak mudah. Di satu sisi, ada dorongan untuk aktif dalam forum internasional. Di sisi lain, sentimen publik menunjukkan kehati-hatian tinggi ketika isu itu bersinggungan dengan kepentingan Palestina dan peran negara-negara besar dalam konflik Timur Tengah.
Source link


