Ponsel lipat sempat dipandang sebagai wajah baru industri smartphone: futuristis, ringkas, dan menawarkan sensasi memakai perangkat yang berbeda dari ponsel biasa. Namun memasuki 2025, euforianya terlihat mulai mereda. Setelah beberapa tahun menjadi magnet perhatian, pasar HP lipat kini menunjukkan gejala perlambatan yang cukup jelas, memunculkan pertanyaan besar: apakah tren foldable masih punya ruang tumbuh, atau justru mulai kehilangan daya tariknya?
Minat Konsumen Tak Lagi Sekuat Sebelumnya
Pada fase awal kemunculannya, HP lipat cepat mencuri perhatian berkat layar fleksibel dan desain yang bisa dilipat. Banyak pengguna menganggapnya sebagai simbol inovasi sekaligus langkah maju dari smartphone konvensional. Tetapi, pada 2025, antusiasme itu tidak lagi sekuat dulu. Analisis pasar menunjukkan konsumen mulai lebih selektif, dan perangkat lipat tidak lagi otomatis menjadi produk yang paling diburu.
Pengiriman Panel Ikut Terseret Turun
Perlambatan ini tercermin dari data rantai pasok. Menurut laporan Counterpoint Research, pengiriman panel layar lipat turun sekitar 4 persen pada 2025. Angka tersebut menjadi sinyal bahwa permintaan terhadap perangkat foldable ikut melemah. Di saat yang sama, produsen juga tampak menahan laju peluncuran model baru dan tidak lagi seramai beberapa tahun sebelumnya.
Dari Ledakan Tren ke Fase Seleksi
Awal 2020-an menjadi periode ketika banyak merek berlomba masuk ke pasar HP lipat. Persaingan yang ketat mendorong hadirnya lebih banyak varian dan inovasi desain. Namun, situasinya kini berubah. Dengan jumlah model yang lebih terbatas dan minat pasar yang tidak setinggi dulu, industri foldable terlihat memasuki fase yang lebih hati-hati. Kondisi ini membuat banyak pihak menilai bahwa era kejayaan HP lipat setidaknya sedang melambat, jika bukan mulai memasuki titik jenuh.
Source link


