Krisis Resistensi Antimikroba: Mengapa Banyak Warga Konsumsi Antibiotik Tanpa Resep Dokter
Penggunaan antibiotik yang tidak terkendali di Indonesia kini menjadi alarm serius. Resistansi terhadap antibiotik disebut sudah mencapai 43 persen, atau hampir 300.000 orang, menurut Taruna. Angka ini menunjukkan bahwa obat yang semestinya menjadi andalan justru makin kehilangan daya guna. Akibatnya, penyakit yang tergolong ringan bisa lebih sulit ditangani, bahkan dalam kasus tertentu dapat mengancam nyawa pasien.
Masalah yang Tak Lagi Bisa Dilihat Sebagai Urusan Medis Saja
Resistensi antimikroba kini dipandang sebagai pandemi diam-diam. Ancaman ini tidak hanya berdampak pada pasien hari ini, tetapi juga pada sistem kesehatan dalam jangka panjang. Jika terus dibiarkan, kondisi tersebut diperkirakan dapat memicu hingga 10 juta kematian secara global pada 2050. Dengan skala risiko seperti itu, persoalannya jelas bukan sekadar soal kebiasaan membeli obat tanpa resep, melainkan soal bagaimana masyarakat dan negara memperlakukan antibiotik secara keseluruhan.
Taruna menekankan bahwa penanganan resistansi tidak bisa dibebankan hanya kepada BPOM, Kementerian Kesehatan, dan dinas kesehatan. Menurut dia, sejumlah kementerian lain juga harus terlibat aktif karena sumber masalahnya tersebar di banyak sektor.
Perikanan, Pertanian, dan Lingkungan Ikut Menentukan
Sektor perikanan disebut ikut menyumbang persoalan ini melalui penggunaan antibiotik dalam pakan udang. Praktik semacam itu berisiko meninggalkan dampak yang kemudian menjalar ke kesehatan manusia. Di sisi lain, sektor pertanian juga tak luput dari sorotan karena antibiotik kerap dipakai sebagai pestisida untuk melawan hama pada tanaman.
Karena itu, kementerian seperti Pertanian, Kelautan dan Perikanan, serta Lingkungan Hidup dinilai punya peran penting dalam mempersempit ruang munculnya resistansi. Tanpa pengawasan lintas sektor, upaya mengendalikan penggunaan antibiotik hanya akan berjalan setengah hati, sementara ancaman resistensi terus membesar dari hari ke hari.
Kenapa Konsumsi Tanpa Resep Jadi Masalah Besar
Di tingkat masyarakat, konsumsi antibiotik tanpa resep sering dianggap hal sepele. Padahal, penggunaan yang tidak tepat dapat mempercepat munculnya kuman yang kebal obat. Begitu resistansi terbentuk, pengobatan menjadi lebih sulit, lebih lama, dan berbiaya lebih besar. Dalam banyak kasus, obat yang dulu ampuh tak lagi memberikan hasil yang diharapkan.
Karena itu, krisis resistensi antimikroba tidak bisa dibaca sebagai isu teknis semata. Ini adalah persoalan kebiasaan, pengawasan, dan koordinasi kebijakan yang harus dibenahi dari hulu ke hilir. Source link


