Amerika Serikat dan Rusia tampak semakin mendekati kesepakatan untuk mematuhi perjanjian pengendalian senjata nuklir New START setelah masa berlakunya berakhir pada Kamis. Dilaporkan bahwa kedua negara tersebut sedang merampungkan kesepakatan untuk mengamati ketentuan New START dalam jangka waktu tambahan, meskipun perjanjian tersebut secara resmi telah kedaluwarsa. New START, yang ditandatangani pada 2010, memberlakukan pembatasan terhadap jumlah rudal, peluncur, dan hulu ledak strategis yang dapat dimiliki oleh setiap pihak. Perjanjian ini merupakan satu-satunya kesepakatan pengendalian senjata nuklir terakhir yang dimulai sejak era Perang Dingin lebih dari setengah abad lalu.
Meskipun belum ada komentar resmi dari Gedung Putih terkait laporan tersebut, isu ini muncul di tengah sejumlah perkembangan penting dalam hubungan antara Amerika Serikat dan Rusia. Komando Eropa militer AS menyatakan bahwa kedua negara telah sepakat untuk melanjutkan dialog tingkat tinggi antarmiliter di Abu Dhabi. Sementara itu, perundingan damai antara Ukraina dan Rusia, yang didukung oleh AS, akan terus dilanjutkan setelah putaran kedua pembicaraan di Abu Dhabi selesai.
Terlepas dari perkembangan tersebut, belum jelas apakah kesepakatan untuk mematuhi New START dalam periode tambahan, yang disebut berlangsung sekitar enam bulan, akan dituangkan dalam bentuk dokumen formal atau hanya keputusan politik sementara. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyatakan bahwa Rusia masih terbuka untuk berdialog dengan AS asalkan Washington memberikan tanggapan yang dianggap konstruktif terhadap usulan Rusia.
Perpanjangan New START sebelumnya hanya bisa dilakukan sekali, yang telah disepakati oleh mantan Presiden AS Joe Biden dan Presiden Rusia Vladimir Putin selama lima tahun. Namun, setiap perpanjangan setelah masa itu berakhir memerlukan keputusan eksekutif untuk tetap mematuhi batasan perjanjian secara sukarela. Presiden AS saat ini, Donald Trump, ingin melibatkan China dalam kesepakatan pengurangan senjata nuklir, tetapi Beijing menolak ikut serta dengan alasan jumlah hulu ledak nuklirnya yang jauh lebih kecil daripada Rusia dan Amerika Serikat. Kini, Trump akan menentukan arah kebijakan pengendalian senjata nuklir ke depan tanpa memberikan rincian lebih lanjut.


