Marak Konten Dewasa Palsu: Ancaman Eksploitasi Visual
Di tengah derasnya arus konten digital, persoalan baru ikut menguat: gambar dan video manipulatif berbasis AI yang kerap menyasar tubuh perempuan. Bagi Ratna, Ketua Program Magister Kajian Budaya dan Media di Sekolah Pascasarjana UGM, fenomena ini bukan sekadar soal kecanggihan teknologi, melainkan cerminan bias lama yang terus hidup dalam bentuk baru.
AI yang Tampak Netral, tetapi Tidak Bebas Bias
Ratna menilai teknologi digital dan kecerdasan buatan tidak pernah benar-benar netral. Di balik sistem yang terlihat modern, ada data, desain, dan imajinasi sosial yang sejak awal dibentuk oleh cara pandang maskulin. Karena itu, teknologi sering kali ikut memproduksi ulang relasi kuasa yang menempatkan perempuan sebagai objek.
Ia juga menyoroti bagaimana AI assistant dalam praktik sehari-hari kerap digenderisasi sebagai feminin. Nama, suara, hingga karakter yang dipilih biasanya dibuat terdengar patuh, ramah, dan melayani. Pola ini, menurut Ratna, bukan hal kecil karena memperlihatkan bagaimana teknologi ikut mengulang stereotip gender yang sudah lama melekat di masyarakat.
Morphing dan Kekerasan Visual Digital
Dalam penjelasannya, Ratna menyebut kekerasan visual digital seperti morphing bukan sekadar perkembangan baru dari voyeurism, melainkan kelanjutan dari persoalan struktural yang sama. Artinya, teknologi hanya mempercepat dan mempermudah praktik lama yang menjadikan tubuh perempuan sebagai bahan eksploitasi visual.
Di titik ini, konten dewasa palsu menjadi ancaman yang lebih luas daripada sekadar pelanggaran etika digital. Ia menyentuh soal martabat, relasi kuasa, dan cara publik mengonsumsi gambar manipulatif tanpa mempertanyakan dampaknya terhadap korban maupun ekosistem informasi.
Kesadaran Kolektif Jadi Kunci
Untuk menghadapi situasi tersebut, Ratna mendorong pengguna media digital agar lebih sadar secara kolektif. Ia menekankan bahwa tindakan sederhana seperti menyukai, mengomentari, atau membagikan konten manipulasi AI dapat membuat seseorang ikut menjadi pelaku sekunder.
Karena itu, masyarakat diminta lebih kritis dalam menyaring informasi yang beredar. Bagi Ratna, kesadaran kolektif bukan sekadar imbauan moral, melainkan upaya menggeser posisi pengguna dari penonton pasif menjadi bagian aktif dari solusi. Dalam ruang digital yang semakin cepat dan serba viral, setiap klik, like, dan share membawa konsekuensi etis sekaligus politis yang tidak bisa diabaikan.


