More

    Keberuntungan Bangsa Kita dalam Damai: Kenapa Harus Bersyukur

    Presiden Prabowo Subianto memanfaatkan panggung Perayaan Natal Nasional 2025 di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Senin (5 Desember 2026), untuk menyampaikan pesan yang terdengar sederhana, tetapi sarat makna: Indonesia memang patut bersyukur, namun persatuan tidak boleh dianggap selesai begitu saja. Di hadapan para peserta perayaan, ia menegaskan bahwa keberagaman bangsa justru menjadi alasan untuk menjaga damai dengan lebih serius, bukan alasan untuk saling menjauh.

    Syukur di Tengah Bangsa yang Beragam

    Prabowo menyoroti posisi Indonesia sebagai negara multietnis, multiagama, dan multibudaya yang tetap mampu bertahan dalam satu ikatan kebangsaan. Menurut dia, modal sosial seperti itu tidak dimiliki semua negara. Karena itu, keberagaman seharusnya dipelihara sebagai kekuatan bersama, bukan dipakai sebagai pembenaran untuk memecah belah.

    Ia juga mengaitkan rasa syukur itu dengan kondisi Indonesia yang dinilainya masih terjaga di tengah berbagai tantangan. Prabowo bahkan menyebut Indonesia tercatat sebagai negara paling bahagia berdasarkan survei dari Harvard University dan Gallup Poll. Namun, ia mengingatkan bahwa capaian semacam itu tidak boleh membuat pemerintah dan masyarakat lengah, sebab masih banyak warga yang hidup dalam kesulitan dan menunggu kehadiran negara.

    Pesan untuk Kabinet Merah Putih

    Dalam pandangannya, ukuran kebahagiaan bangsa tidak cukup dibaca dari angka atau hasil survei. Yang lebih penting adalah apakah pembangunan benar-benar dirasakan rakyat. Karena itu, Prabowo meminta Kabinet Merah Putih bekerja lebih keras agar kesejahteraan masyarakat meningkat, terutama bagi kelompok yang paling rentan.

    Ia menegaskan, tugas pemerintah bukan sekadar menjaga stabilitas, tetapi juga memastikan hasil kerja negara sampai ke rakyat. Di titik ini, rasa syukur yang ia sampaikan tidak berhenti sebagai ucapan seremonial, melainkan menjadi pengingat bahwa pekerjaan besar masih menanti.

    Nyinyir Elite dan Arti Kritik yang Sehat

    Prabowo juga menyinggung kebiasaan nyinyir yang kerap muncul dari kalangan elite. Menurut dia, sikap seperti itu tidak membantu bangsa bergerak maju dan justru berpotensi mengganggu semangat kebersamaan. Ia menekankan bahwa Indonesia hanya bisa melangkah lebih jauh jika perbedaan tidak dijadikan bahan saling serang.

    Meski begitu, Prabowo tidak menolak kritik. Ia menyebut kritik dan koreksi tetap penting dalam demokrasi, asalkan disampaikan dengan tujuan membangun. Bagi dia, yang harus dibedakan adalah kritik dengan fitnah. Demokrasi perlu dijaga, tetapi tidak boleh berubah menjadi ruang yang membuka jalan bagi serangan yang merusak kepercayaan publik.

    Swasembada Pangan sebagai Bukti Kerja Nyata

    Dalam kesempatan yang sama, Prabowo turut menyinggung capaian Indonesia mencapai swasembada pangan pada 2026. Ia menyebut hasil itu sebagai bukti bahwa kerja serius bisa melahirkan pencapaian besar, bukan hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi dunia. Salah satu yang ia sorot adalah kemampuan menjaga stabilitas harga beras secara global, yang menurutnya memperlihatkan posisi Indonesia semakin diperhitungkan.

    Pidato Prabowo di Natal Nasional kali ini menempatkan syukur, persatuan, dan kerja keras dalam satu napas. Di tengah suasana perayaan, ia mengirim pesan yang jelas: Indonesia besar bukan karena bebas dari masalah, melainkan karena tetap mampu menjaga damai sambil terus bergerak maju.

    Source link

    Berita Terbaru

    Related articles