Regina Diya Azzahra dan “Sustainergy AgroAction”: Dari Kampus ke Gerakan Pemberdayaan
Di tengah arus aktivisme anak muda yang makin ramai di ruang digital, Regina Diya Azzahra memilih jalur yang tidak sekadar ramai, tetapi juga terarah. Mahasiswi Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran (Unpad) di Bandung ini tampil sebagai sosok yang menggabungkan isu lingkungan, hak anak, dan pemberdayaan remaja dalam satu suara yang konsisten. Perjalanannya menuju gelar Runner Up 2 Putri Padjadjaran 2025 bukan hanya soal panggung dan apresiasi, melainkan tentang bagaimana seorang mahasiswa bisa menjadikan pengetahuan sebagai alat perubahan.
Advokasi yang lahir dari ruang belajar
Regina dikenal aktif membagikan kegiatannya sebagai aktivis Save the Children Indonesia dan UNICEF Indonesia. Keterlibatannya di isu keberlanjutan serta hak asasi anak membuatnya melihat media sosial bukan sekadar tempat menunjukkan aktivitas, melainkan ruang untuk menyambungkan ilmu dengan kepedulian sosial. Dari pemikiran itu, ia menggagas “Sustainergy AgroAction”, sebuah gerakan advokasi yang memadukan lingkungan, keberlanjutan, dan pemberdayaan remaja.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa isu yang diusung Regina tidak berhenti pada slogan. Ia menempatkan pertanian, keberlanjutan, dan perlindungan anak dalam satu kerangka yang saling berkaitan. Dengan pendekatan itu, Regina ingin menunjukkan bahwa aktivisme anak muda bisa lahir dari disiplin ilmu yang sedang dijalani, lalu diterjemahkan menjadi aksi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Deretan peran yang menguatkan jejaknya
Selain menyandang gelar Runner Up 2 Putri Padjadjaran 2025, Regina juga tercatat sebagai aktivis Child Campaigner Jawa Barat dari Save the Children, narasumber global konferensi internasional, dan Delegasi Indonesia Child Conference. Di lingkungan kampus, ia pernah menjabat sebagai Project Officer FTIP Leader Class 2025, Sekretaris I HIMATEIN, serta GenPeace Ambassador 2024. Ia juga terlibat dalam Pagelaran Anak Panca Sora, yang memperluas ruang kolaborasinya di luar kegiatan akademik.
Rangkaian pengalaman itu membuat Regina bukan hanya dikenal sebagai peserta ajang kampus, tetapi juga sebagai figur yang terus membangun pengaruh melalui kerja-kerja advokasi. Dalam konteks ini, pencapaiannya menjadi cermin bahwa kepemimpinan mahasiswa dapat tumbuh dari konsistensi, bukan semata dari popularitas.
Ajakan untuk bergerak, bukan hanya berbicara
Menurut Regina, tantangan generasi muda saat ini bukan kekurangan informasi, melainkan kemampuan menyatukan literasi dengan komitmen. Ia menilai banyak wacana berhenti di percakapan, padahal perubahan baru terasa ketika gagasan berubah menjadi tindakan nyata. Karena itu, ia mendorong anak muda untuk memulai dari langkah sederhana namun berdampak, seperti mengurangi food waste, mendukung produk lokal, dan berani bersuara saat melihat ketidakadilan.
Regina percaya perubahan besar dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus. Keyakinan itu menjadi dasar dari cara ia bergerak: tenang, terukur, dan tetap berpihak pada keberlanjutan. Dalam pandangannya, generasi muda punya modal besar untuk membentuk masa depan yang lebih adil dan lestari, asalkan berani memulai dan tidak berhenti di tengah jalan.


