Fenomena bibit siklon dan siklon tropis yang muncul berulang dalam beberapa waktu terakhir menimbulkan pertanyaan apakah kejadian ini akan menjadi rutinitas baru di Indonesia. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto menjelaskan bahwa terbentuknya siklon tropis di sekitar wilayah Tanah Air sebenarnya memiliki pola periodik yang terjadi setiap tahun. Siklon tropis terjadi di wilayah Indonesia dengan periodisasi belahan bumi utara terjadi di bulan Juni hingga Desember, sementara periodisasi belahan bumi selatan terjadi di bulan Desember hingga April, dengan bulan Desember menjadi bulan overlapping. Periode tumpang tindih ini membuat kemunculan siklon tropis di utara dan selatan bisa terjadi bersamaan, seperti yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.
Guswanto juga menjelaskan bahwa siklon tropis terbentuk dari gangguan atmosfer di atas lautan yang memiliki suhu hangat, yang dipengaruhi oleh posisi gerak semu matahari. Ketika matahari berada di posisi terjauh di sebelah selatan pada 22 Desember, pemanasan di wilayah selatan Indonesia meningkat. Gerak semu matahari kembali menuju ekuator akan menyebabkan pemanasan yang meningkatkan suhu permukaan air laut menjadi 26,5 derajat atau lebih tinggi. Suhu laut yang meningkat ini memberikan energi yang dibutuhkan untuk pembentukan sistem cuaca ekstrem. Hal ini menyediakan energi panas dan kelembaban untuk pertumbuhan awan konvektif yang dapat menyebabkan terjadinya bibit siklon ataupun siklon tropis.


