Berdasarkan pernyataan Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia, masyarakat Indonesia masih cenderung untuk berbelanja di pasar tradisional meskipun tren belanja digital semakin berkembang. Data dari laporan Worldpanel by Nominator FMCG, Monitor Q3 tahun 2025 menunjukkan bahwa sekitar 82% dari aktivitas belanja tetap dilakukan di pasar tradisional. Modernisasi pasar rakyat dianggap penting untuk tetap menjadi bagian dari ekonomi nasional, meskipun adanya pertumbuhan signifikan dalam saluran belanja online.
Tren ini mencerminkan perilaku konsumen yang semakin omni-channel, di mana mereka membeli dari berbagai kanal dengan tujuan dan frekuensi yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa konsumen Indonesia saat ini tidak terpaku pada satu jalur belanja saja, melainkan menggabungkan berbagai aspek seperti kenyamanan, harga, pengalaman, dan nilai tambah dalam proses pembelian. Ketua APRINDO juga menegaskan bahwa tren tersebut seharusnya dijadikan sebagai tantangan dan peluang bagi para pengusaha ritel, bukan sebagai ancaman.
Dalam menyambut Hari Ritel Nasional ke-6 tahun 2025, Solihin menekankan pentingnya peran ritel sesuai dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia serta dalam mendukung keberlanjutan dan keadilan ekonomi lewat kerjasama dengan UMKM. Visi kemajuan ritel yang ditekankan oleh APRINDO harus sejalan dengan kemajuan UMKM di Indonesia. Solihin juga menegaskan bahwa tema besar saat ini adalah kebangkitan ritel bersama UMKM menuju pasar global, dengan komitmen nyata untuk berkolaborasi dan mewujudkan kerja sama antara produksi lokal dan jaringan distribusi nasional.


